Rivalitas Panjang El Clasico



Saat menjamu Liverpool di leg pertama perempat final Liga Champions 2020/2021, Rabu (7/4/2021) lalu, psywar sudah mulai digaungkan kubu Barcelona. Sebuah bentangan spanduk raksasa bertuliskan "Can't wait for El Clasico" terpampang mencolok di sekitar pelataran Stadion Alfredo di Stefano, Madrid. Perang urat syaraf yang ditanggapi dingin oleh para pasukan putih, karena memang Real Madrid sedang fokus pada pertandingan, sedangkan Barcelona telah lebih awal tersingkir di ajang kompetisi klub terbaik dunia tersebut.


Rivalitas akbar di dunia sepakbola bertajuk El Clasico atau Derby Spanyol memang telah lama terbangun dan berlangsung panas, sejak kedua tim bertemu pertama kali di semifinal Piala Spanyol pada 13 Mei 1902. 


Pertemuan El Clasico dini hari nanti (Ahad, 11/4/2021) merupakan pertemuan ke-278 (kompetisi 245 dan eksibisi 33 kali pertemuan) tersebut telah menyajikan 101 kemenangan buat Real Madrid dan 115 kemenangan buat Barcelona, sedangkan sisanya, 62 pertemuan berakhir imbang. Namun, jika dihitung dalam laga resmi (kompetisi), Real Madrid lebih menang banyak dengan keunggulan satu angka, yaitu 97 kemenangan, sedangkan Barcelona meraih 96 kemenangan, dan 52 sisanya berakhir imbang.


Demikianlah fakta dan rekor yang tercipta selama El Clasico tersaji, belum lagi fakta tentang skor tertinggi 11-1 untuk kemenangan Real Madrid, seringkali melahirkan luka dan dendam bagi yang kalah. Untuk itulah tulisan ini berkepentingan untuk mengurai sejarah rivalitas El Clasico.


Persoalan sejarah yang subyektif. Sejarah yang multitafsir, mempersilakan pembaca untuk membaca berdasarkan perspektif yang disukai. Walaupun harus diakui jujur, buku sejarah lebih banyak menulis tentang Barcelona daripada Real Madrid, karena Real Madrid telanjur dinilai sebagai “anak kekuasaan” sedangkan Barcelona diposisikan sebagai bagian yang teraniaya, dipinggirkan dan untuk itu layak mendapatkan perhatian dan pembelaan, sehingga apapun kekalahan yang menimpa Barcelona selalu dikaitkan dengan peran dan intervensi kekuasaan. 


Untuk itu, pesan penting dalam tulisan ini hanyalalah sebagai pengingat, bahwa tak boleh menanggalkan cinta dan rasa kasih untuk melahirkan keadilan menilai.


Rivalitas El Clasico adalah persaingan yang telah mendarah daging. Suatu pertandingan yang senantiasa ditunggu para pendukung kedua klub, atau pecinta sepak bola di berbagai belahan dunia. Seperti ada kewajiban bagi kita (para fans) untuk menonton pertarungan kedua tim itu, yang penuh dengan gengsi. Kehormatan yang jauh lebih tinggi dari sekadar tiga poin nilai, atau hanya sekadar uang.


Real Madrid dan Barcelona merupakan dua entitas terbesar di negara Spanyol. Jika membandingkan kota, kedua kota tersebut merupakan kota terbesar di Spanyol. Jika berbicara klub sepak bola, keduanya merupakan dua klub besar, paling sukses, paling kaya, dan memiliki basis fans paling banyak di Spanyol. Jumlah itu belum termasuk fans dari luar Spanyol.


Kedua stadion mereka, yakni Santiago Bernabeu dan Nou Camp, sudah seperti rumah ibadah bagi kedua fans. Bagi fans kedua klub, masing-masing stadion mereka dianggap sangat suci, dan seakan, haram hukumnya melihat kesebelasan kesayangan mereka kalah di kandang sendiri, apalagi dari rival abadi.


Rivalitas panjang kedua klub ini, bermula dari partai-partai politik, yang menggunakan sepak bola sebagai salah satu cara untuk meraih massa. Hal itu lalu berubah menjadi pertarungan budaya antarkaum Castille (kerajaan), yang diwakili Real Madrid, dan kaum Cataluna yang diwakili Barcelona. Sehingga, orisinalitas apapun yang dimainkan di tengah lapangan, akan selalu memiliki penilaian politis.


Pemicu lain dari rivalitas dua klub raksasa Spanyol ini adalah perebutan pemain. Mulai dari, Michael Laudrup yang pindah ke Real Madrid pada 1994 dengan status free transfer (transfer bebas), hingga yang paling menghebohkan, perpindahan kedua idola masing-masing tim pada saat itu. Luis Enrique tiba-tiba pindah dari Real Madrid ke Barcelona. Real Madrid “membalas” dengan “membajak” Luis Figo dari Barcelona. Perpindahan Luis Figo ke Madrid makin memanaskan suhu persaingan kedua tim. Rasa benci fans Barcelona ditunjukkan kepada Figo dengan melemparkan kepala anak babi saat duel El Clasico di semi final Liga Champions tahun 2002.


Di era modern, rivalitas ini berubah menjadi sebuah pertaruhan ideologi sepak bola. Kedua klub mengklaim masing-masing mereka lebih baik dari rivalnya. Satu hal yang menarik, El Clasico selalu dihubungkan dengan sejarah perseteruan ideologi dan politik. 


Kekalahan Barcelona 11-1 oleh Real Madrid pada 1943. Memori itu tentu tidak pernah nyaman untuk diingat kubu Barcelona. Pertandingan itu kemudian menjadi catatan paling penting dalam sejarah El Clasico. Kubu Madrid akan sontak meneriakkan Hala Madrid jika mengungkit pertandingan tersebut. Sedangkan, Barcelonistas punya alasan untuk menampik sejarah itu.


Cerita yang berkembang dan diamini para pendukung Barcelona, kekalahan itu terjadi karena ada campur tangan dari rezim diktator Jenderal Fransesco Franco, yang berkuasa di Spanyol saat itu. Ia mengharamkan penggunaan bahasa dan bendera Catalan. Franco sendiri dikenal sebagai pengagum Real Madrid.


Versi itu tentu berbeda dengan yang diyakini Madridistas. Rumor campur tangan Jenderal Franco, adalah omong kosong kubu Barca, yang sulit menelan kenyataan pahit itu. Kemenangan 11-1, murni karena kehebatan Madrid. Tidak ada satu bukti pun yang bisa menguatkan tuduhan bahwa Jenderal Franco mengintimidasi pemain Barca sebelum bertanding. Bahkan konon, pemain Barca menepis sendiri rumor itu.


Lagipula, Jenderal Franco ikut membiayai operasionalisasi Camp Nou. Untuk hal itu, Barcelona memberi penghargaan dua medali kepada Franco. Madrid juga bukan tim Franco, seperti yang digembar-gemborkan Barcelonistas ketika itu. Karena, sang jenderal juga memfavoritkan tim selain Real Madrid, yakni Atletico dan Barcelona.


Anggapan Rezim Franco yang diskriminatif terhadap masyarakat Catalan, yang pada gilirannya melahirkan perang sipil Spanyol, sering dianggap sebagai biang rivalitas dan terjadi antara tahun 1936-1939, adalah keliru. Kesalahan anggapan itu juga diperkuat dengan data yang menyajikan fakta terbalik. Bahwa sesungguhnya, Catalonia versus Castilia, atau Real Madrid dan Barcelona lebih sering berada di satu pihak.


Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, misalnya, Jendral Franco justru sempat memilih presiden untuk kedua Klub. Data lain menegaskan, dua bersaudara berdarah Catalan (Carlos Padros dan Juan Padros) adalah pendiri Real Madrid yang tinggal di Madrid. Mereka punya toko pakaian yang kemudian menjadi tempat berdirinya Madrid FC tahun 1902, tiga tahun setelah berdirinya Barcelona FC pada tahun 1899, yang didirikan oleh Joan Gamper.


Lebih jauh, dua dari Presiden Real Madrid selama perang sipil beraliran anti-Franco. Rafael Sanchez Guerra adalah seorang Republikan, dan Kolonel Antonio Ortega seorang penganut aliran komunis yang fanatik pada Uni Soviet. Fakta lain, Barcelona adalah klub yang pernah dianggap sebagai anti-Spanyol. Namun, Barca justru penyuplai pemain terbanyak Timnas Spanyol hingga sekarang. 


Sejak 1939 hingga kedatangan Alfredo Di Stefano di Real Madrid tahun 1953, yang merupakan periode paling represif selama rezim Franco, Real Madrid gagal memenangi liga. Sementara, Barcelona memenangkan lima gelar. Jadi tidaklah tepat kalau Barca diintimidasi sehingga gagal menjadi juara.


Kini, rivalitas itu terus berlanjut. Bahkan, saya yang jauh dari Spanyol merasakan hawa rivalitas itu, terlebih menjelang duel El Clasico, segala senjata untuk menyerang telah disiapkan tatkala tim kesayangan menang, dan tameng berlindung dari serangan bully-an jika kalah.


Meski kondisinya saat ini, mereka bukan sama-sama sebagai pemuncak klasemen. Laga El Clasico tak pernah menyurutkan semangat dan optimisme untuk menjadi calon juara di akhir kompetisi.


Sejarah kehebatan mega duel dan kedigdayaan dari para pemain selalu memunculkan cerita. Dan bukan sekadar dongeng atau isapan jempol belaka. Bagi para fans, mereka bukanlah legenda kata-kata, tetapi sebuah karya yang nyata.


Dari kubu Barcelona, kondisi saat ini sedang tersiram bara panas. Mereka akan berusaha mengendapkan dukacita mendalamnya setelah tersingkir di Liga Champions dengan cara memenangkan laga ini. Sedangkan dari Madridista, luka menganga akibat tersingkir begitu cepat diajang CDR dan Super Copa, berusaha dinetralisir dengan menjuarai duel klasik ini. Lengkap sudah, laga ini akan sarat dengan dendam kesumat. 


Laga ini juga seolah menceritakan bagaimana berisiknya suara fans dari kedua kubu, bagaimana kondisi yang damai menjadi kacau balau dan bagaimana seorang pemain dari kedua tim menemukan siapa dirinya. (*)


0 Comments:

Posting Komentar