Bebas Sampah Makanan: Mulai Dari Diri


Diolah dari berbagai sumber


Sejak kecil, saya sangat akrab dengan petuah-petuah bijak orang tua: “Jangan dibuang, nanti makanannya menangis”, “habiskan. Remah-remah makanan itu menangis saat kamu perlakukan tak adil!” atau nasihat religius: “Kita tak pernah tahu, di butir mana berkah dan keutamaan makanan, maka jangan pernah sisakan!”

 

Tak hanya kata-kata, saya seringkali memergoki Emak memungut butir-butir nasi yang tercecer di tempat makan, mengumpulkannya dalam sebuah piring lalu memberikannya ke ayam-ayam peliharaan kami. Tak jarang juga sisa nasi yang basi dicucinya, kemudian dimakan atau dijemur hingga kering, lantas dibumbui dan digoreng, disimpan dalam toples dan menjadi cemilan.

 

Sisa makanan seperti tulang ikan, biasanya dipisahkan untuk makanan kucing. Sedangkan sisa-sisa makanan lainnya yang tak bisa lagi dikonsumsi, akan dibuang Emak dalam lubang. Ada beberapa lubang kecil yang memang telah disiapkan untuk pembuangan sisa makanan, ditata jaraknya dari pohon-pohon yang ditanam di kebun belakang rumah kami.

 

Seiring waktu, tuntutan untuk terus belajar dan melanjutkan pendidikan mengharuskan saya untuk meninggalkan kampung dan menjalani kehidupan di kota. Bagi saya yang tinggal dan tumbuh besar di kampung, kota adalah simbol peradaban yang maju dan modern. Masyarakat kota adalah masyarakat yang bukan hanya secara statistik lebih terpelajar, melek aksara dan angka melainkan juga melek teknologi informasi dan lebih akrab dengan pengetahuan.

 

Dulu, pikiran tersebut begitu dominan. Saya menganggao orang kota adalah refresentasi orang terpelajar, yang sangat memahami dasar tindakannya, tidak seperti kami orang-orang kampung yang mendasari aktivitas pada kebiasaan kebiasaan (tradisi) secara turun-temurun, mengikuti mitos 'pamali', seperti ajaran Emak untuk tidak membuang sisa makanan, agar makanan tak membenci kita, jangan merusak hutan atau tanaman agar penunggunya tak marah. Begitulah, ajaran moral yang diwariskan, yang dianggap oleh mereka yang 'berpengatahuan lebih banyak berbau takhayul.

 

Namun, lama-lama anggapan itu harus kembali saya pertimbangkan. Peradaban maju sebagai ciri khas kota, ternyata justru adalah bagian dari mitos. Banyak orang-orang justru berjarak dengan adab, mereka lebih sering menampilkan paradoks. Di kota, banyak orang yang susah mencari makan hingga mengorek-orek tempat sampah, tetapi di sekitarnya banyak orang dengan enteng dan tak peduli membuang makanan. Orang kota takut dengan banjir, tapi mereka lebih suka menanam beton daripada pohon, suka membuang sampah sembarangan yang bisa mengakibatkan saluran air tersumbat.


***


Selama di kota, ajaran-ajaran Emak tertimbun dalam tumpukan aktivitas dan kebiasaan warga kota.

 

Kehidupan di kota pelan-pelan membuat ajaran dari Emak aus dalam ingatan. Saya tak pernah lagi peduli pada sebutir nasi yang tersisa di piring, atau tulang ikan yang menumpuk. Semuanya saya pasrahkan pada pemilik warung atau karyawan rumah makan yang membersihkannya. Saya pun tak pernah mau ambil pusing, apakah sisa-sisa makanan itu berakhir di tong sampah atau mengalir bersama air bekas cucian, dan akhirnya menumpuk di dalam got-got sekitar warung atau rumah makan itu.

 

Sampah Makanan


Berdasarkan data Badan Perwakilan Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agricultur Organization/FAO) sampah makanan di Indonesia mencapai 13 juta ton pertahun, yang jika dikonversi setara dengan 27 triliun rupiah. Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2017, sampah makanan bisa setara dengan konsumsi yang bisa dinikmati oleh 28 juta penduduk Indonesia.

 

Data tersebut adalah sebuah ironi di tengah banyaknya jumlah penduduk yang kesulitan untuk mendapatkan makanan, yang menurut data FAO berada di angka 19,4 juta atau 20% dari jumlah 262 juta penduduk Indonesia. Bahkan, di sekitar kita kerap ada pemandangan yang menyayat hati, beberapa pemulung, tunawisma atau orang-orang 'kekurangan’ mengorek tempat sampah, mencari sisa-sisa makanan, lalu tanpa rasa jijik memakannya.

 

Mulai dari Diri Sendiri




Data kesenjangan antara perilaku masyarakat yang membuang-buang sisa makanan dan mereka yang hidup serba kekurangan, menjadi fakta bahwa sebenarnya kita berjarak dari keadaban yang menjadi karakter utama peradaban maju. Kontrarealitas antara banyaknya sampah makanan dan tingginya angka kelaparan mengharuskan memberi perhatian dan catatan serius bahwa bukan semata, sebagai manusia kita harus merawat nilai-nilai kemanusiaan dengan menunjukkan empati terhadap sesama, melainkan karena kita juga harus beradab dalam merawat alam sekitar kita.

 

Daya tampung tempat pembuangan akhir (TPA) yang semakin hari semakin kewalahan menampung sampah. Selain itu, sampah makanan yang tercampur dengan sampah non-oganik yang tidak bisa hancur atau membusuk, seperti plastik akan menghasilkan leachate atau air lindi, yaitu cairan beracun yang sangat berbahaya karena mengandung konsentrasi senyawa organik dan non-organik.

 

Jadi, selain kehilangan nilai-nilai kemanusiaan karena tidak memiliki empati atas nasib manusia yang lain, sampah sisa makanan juga menghadirkan ancaman serius bagi keberlangsungan kehidupan. Untuk itu, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk gaya hidup minim sampah makanan, dan bisa dimulai dari mendisiplinkan diri sendiri.

 

Pertama, ambil makanan sesuai porsi. Untuk kasus ini berlaku prinsip lebih baik kurang dan bisa nambah daripada lebih yang mengakibatkan makanan sisa dan dibuang. Bijak menentukan porsi makanan ini, berlaku baik pada saat di rumah atau saat makan di luar (warung/rumah makan) atau di rumah.

 

Kedua, bungkus makanan tersisa. Jika terlanjur makanan tersebut sisa upayakanlah untuk membungkus makanan tersebut dan membawanya pulang, termasuk juga membungkus tulang atau sampah dari lauk (ikan/daging). Ketiga, berikan pada hewan peliharaan. Sisa makanan tersebut bisa diberikan  kepada hewan peliharaan (ayam atau kucing).

 

Keempat, belajar mendaur ulang. Banyak tutorial tentang daur ulang sampah makanan di internet. Kita bisa belajar untuk mengubah sampah makanan menjadi pupuk, yang bisa menghasilkan berkah untuk membuat subur makanan atau bahkan jika ditekuni bisa menghasilkan uang yang lumayan.

 

Kelima, membuat galian kecil. Jika memiliki lahan yang lumayan luas, seperti kebun, buatlah galian kecil untuk menanam sisa makanan seperti tulang atau bekas-bekas sayur yang tidak mungkin lagi bisa dimakan, dengan mengatur jarak ideal dengan pohon-pohon yang ditanam. Lama-lama sisa makanan yang membusuk tersebut bisa menjadi pupuk yang baik untuk perkembangan pohon-pohon.

 

Keenam, terapkan denda. Menghukum diri sendiri karena melanggar komitmen untuk tidak menyisakan sampah makanan bisa menjadi pilihan terakhir. Hukum tersebut bisa berupa puasa beberapa hari, atau memberi makan orang-orang yang tidak mampu selama beberapa hari juga.

 

Mengingat sampah makanan sangat berbahaya dan menjadi penyumbang musibah bagi masa depan kota, kita memiliki tanggungjawab untuk terus menerus menyosialisasikan bahayanya agar bebas sampah makanan. Termasuk mendorong pemerintah, pihak rumah makan (warung/restoran) untuk menerapkan sanksi bagi konsumen yang masih menyisakan makanannya, termasuk mengatur/membuat kebijakan yang mendisiplinkan setiap rumah makan untuk selalu melakukan pemilihan dan pemilihan berbagai jenis sampah (organik, an-organik, dan non-organik).

 

Akhirul Kalam

Ramadhan mestinya menjadi medium perilaku hemat, tetapi rasa lapar di siang hari seringkali membuat orang ingin membeli semua makanan (lapar mata), yang mengakibatkan bukan hanya menjadikan kita lebih boros melainkan juga berkontribusi terhadap peningkatan jumlah sampah makanan selama bulan Ramadhan. Maka, mengembalikan spirit Ramadhan sebagai bulan yang mengajarkan untuk membangun empati, peduli sosial dan hemat, harus menjadi spirit Ramadhan kali ini dan Ramadhan seterusnya, sehingga kita tak terus menerus jatuh dalam kubangan kesalahan yang sama: kemubaziran dan sampah makanan. (*)


0 Comments:

Posting Komentar