Ruang Tapa Brata



Begitu tahun berganti, berjuta orang berkata: “Alangkah cepat waktu berjalan. Kita yang dulu kanak-kanak, kini telah menua. Kita yang dulu imut, kini menjadi amit-amit. Kita yang dulu menggemaskan, kini mulai mencemaskan."


***

Tahun-tahun melaju dan terus berjalan, kehidupan memang berlalu begitu cepat. Namun, kehidupan bukan persoalan waktu dan jarak, bukan pula persoalan seberapa lama dan seberapa jauh kita menapaki hidup. Kehidupan adalah persoalan kemana dan bagaimana melangkah. Sialnya, alih-alih mengetahui ke mana dan bagaimana melangkah, acap kita juga tak paham tujuan.


Kita memiliki kesadaran yang sama, bahwa jalan menuju puncak kejayaan, kesuksesan atau puncak apa pun adalah jalan yang menanjak, jalan yang sarat perjuangan, disesaki rasa lelah. Tak ada pendakian yang mudah, selalu menguras tenaga, butuh kepiawaian mengatur nafas dan mengelola emosi.


Meski sadar dan tahu, menjalani kehidupan menuju puncak membutuhkan perjuangan, anehnya kita selalu setia berteman dengan keluhan: lelah, susah. Tak jarang kita memutuskan untuk menyerah di tengah jalan atau berusaha mencari jalan pintas.


Padahal hidup yang ditempuh menuju puncak, dengan jalan pintas tentu memberi risiko lebih besar. Jalan pintas atau hidup instan, bukan hanya akan membuat kegagalan berproses, tetapi juga sering membuat tersesat: bukan pada cahaya kita menatap dan menetap, pada kegelapanlah kita tenggelam. Menduga itu adalah pendakian ke atas, nyatanya pada juranlah terpuruk.


Jalan yang sunyi dari hambatan, tak melelahkan, tak butuh perjuangan dan pengorbanan selalu layak dicurigai bukan sebagai pendakian.
Isyarat Tuhan dalam kitab suci, bahwa tak ada satu pun orang yang sampai pada level tertinggi kehidupan, sebelum ia melalui ramainya cobaan: rasa takut, rasa lapar hingga hidup dalam kekurangan dan kehilangan.


Lantas, kenapa kita abai dan selalu menampilkan sikap paradoks: mencitakan konsepsi ideal kehidupan, tapi praktik hidup leha-leha; menginginkan kehidupan hebat, tapi lelakon dan tutur recehan; memimpikan hidup menyenangkan, tetapi menggemari kebenciaan; menyukai kelapangan, tetapi doyan menumpuk materi.


***


Memang, kita tak akan pernah tergerak menuju samudera saat kita tak pernah menyadari kita hanyalah setetes air di tengah sahara. Kita tak akan pernah ingat serumpun, hingga kita merasa hanyalah seruling kecil yang terasing di tengah kesendirian. Bagaimana kita ingin bergerak menuju ke kesempurnaan, bila kita tak pernah mengetahui keterbatasan. Bagaimana kita hendak bertolak pada keabadian, jika kita tak pernah menyadari kefanaan diri.


Di tahun 2021 ini, kita butuh ruang sunyi, ruang meditasi untuk menyelami nilai-nilai kemanusiaan kita, menengok kembali kedalaman sadar kita, kewarasan dan normalnya kita sebagai manusia berhati dan berakal.


Kita butuh ruang tapa brata. Ruang yang dalam KBBI diartikan bertarak, menahan hawa nafsu atau berpantang. Dalam etika Jawa, tapa brata adalah ruang yang dilakoni untuk tujuan meraih kesempurnaan jiwa. Dalam perspektif Max Weber, tapa brata serupa dengan asketisisme. Ia menegaskan bahwa hasrat untuk mendapat materi yang didasarkan pada pengenduran nilai-nilai moralitas, adalah keliru dan sesat.


Menurut Weber, the wordly asceticism atau tapa brata duniawi, difokuskan melalui konsep calling (sinyal/panggilan) yang lahir dari semangat reformasi gereja. Calling merujuk pada ide awal bahwa bentuk tertinggi dari kewajiban moral individu adalah memenuhi tugas-tugasnya dalam urusan duniawi, Weber menilai kekayaan menjadi amoral jika hanya dilakukan untuk menopang kehidupan mewah dan bermalas-malas.


Dalam lakon pewayangan, kita mengenal Abimanyu yang disosokkan sebagai kesatria sejati berusia muda. Ketokohan Abimanyu terbentuk oleh dialektika hidup yang sama sekali tak sederhana, Ia lahir dan besar dalam suasana serba kekurangan, hidup dalam nestapa kemiskinan dan penderitaan.


Abimanyu adalah putra Arjuna. Ia tumbuh dalam asuhan pamannya, karena ketika itu para Pandawa termasuk ayahnya Arjuna harus menjalani pengasingan selama 12 tahun dan masa penyamaran selama setahun. Namun, penderitaan tersebab kemiskinan, justru membuat Abimanyu terkukuhkan sebagai seorang pribadi yang jernih menyimak kehidupan.


Kemiskinan yang telah mencetuskan tapabrata atau asketisisme, 

mengantarkan Abimanyu pada kebeningan jiwa menatap segenap pernak-pernik dunia dengan hati nurani. Sisi terang dan sisi gelap dunia lalu terdeteksi secara apa adanya, tak mengambil lebih dari apa yang menjadi haknya.


Abimanyu lahir sebagai tokoh teladan dalam lakon cerita pewayangan, yang penting dikhusyuki sebagai teladan. Nestapa kemiskinan tak membuat Abimanyu cengeng, alai dan lebai. Justru, kemiskinan mengantarkan Abimanyu pada praksis tapa brata, menghayati kemiskinan sebagai cara membentuk pribadi berkarakter, begitu pun kala berada di tengah kemapanan, tak membuatnya lupa daratan dan abai terhadap perjuangan.


Abimanyu merupakan sosok dengan kebeningan nurani yang tiada tara. Jiwanya mampu mencerna kemungkinan timbulnya prahara besar, pertumpahan darah akibat perseteruan tak kunjung usai antara Pandawa dan Kurawa. Perang besar Pandawa versus Kurawa telah sedemikian rupa hadir sebagai narasi tentang kecamuk ambisi dan angkara murka. Dan, sebagaimana terdeteksi melalui kebeningan hati nurani Abimanyu, perang besar itu merupakan simbolisme dari kebengisan manusia menghancurkan sesamanya.


Abimanyu hadir sekaligus menjadi korban dari perang kekuasaan tersebut.  Melawan angkara murka yang terus menerus ditebarkan Kurawa. Meski sebelumnya ia berjanji untuk tak ikut berperang, karena ia paham jika melanggar janji tersebut ia pasti terbunuh, tetapi Abimanyu tak pernah lari dari gema yang berkumandang dari kedalaman hati nuraninya, ia ikut berperang dan akhirnya terbunuh dengan gada Dursasana.


Abimanyu berjuang mengorbankan dirinya, meninggalkan istrinya yang sedang mengandung.


Begitulah, cerita Mahabharata, dalam narasi perebutan kekuasaan dan politik selalu hadir, meski lebih sering tampil dalam wajah tunggal Kurawa, jarang dan langka kita mendapati tokoh-tokoh politisi yang duduk di lembaga parlemen dan lembaga eksekutif hadir memerankan wajah Pandawa, apalagi serupa wajah Abimanyu, meski cukup banyak tokoh-tokoh tersebut yang di kala bocah sesungguhnya bergumul dengan nestapa kemiskinan dan hidup serba kekurangan.


Wajah-wajah penguasa sekali lagi, lebih sering hadir menegaskan diri sebagai sosok Sengkuni, Duryadana, dan Dursasana, wajah-wajah serakah, yang acapkali lelakunya penuh tipu muslihat dan kemunafikan.


Kemiskinan di masa kecil malah mengkristalisasi ratapan jiwa dan umpatan kesadaran, bukan fase edukatif mengasah nurani. Tatkala bocah miskin itu lantas dewasa dan berhasil menorehkan namanya sebagai anggota parlemen atau penguasa, maka secara reflek-psikologis terkobarkan dendam pada kemiskinan masa lampau, menjadi kemaruk, rakus dan dzalim, dengan membiarkan dirinya terseret sengkarut kejahatan korupsi.


Mereka yang dulunya adalah aktivis yang sering berkoar-koar tentang ketakadilan, kekuasaan yang dzalim, tidak serta merta mendedahkan pengalaman tersebut sebagai atmosfer edukasi tapa brata, melainkan menjadi bekal dan latar pengalaman untuk lebih lihai mengelabui rakyat, bersandiwara dan berkamuflase sebagai pejuang rakyat, padahal sejatinya adalah pribadi dengan mental budak, menghamba pada kuasa imperialistik.


Maka, tak perlu heran jika sewaktu-waktu tokoh-tokoh yang sering menyebut dirinya wakil rakyat lebih mirip dengan tokoh-tokoh Kurawa atau tokoh yang penuh dengan trik tipudaya seperti Sengkuni. Mereka menjadi anggota parlemen, tetapi di saat yang sama juga menjadi pengusaha dan pemburu setoran, mulai menjadi makelar proyek, makelar jabatan atau bahkan sering pula menjadi calo dalam penerimaan PNS, sering tampil sebagai sosok yang humanis dan merakyat, tetapi sesungguhnya berhati serigala.


Jiwa yang tak pernah memaknai kehidupan sebagai tapa brata, memang tidak akan pernah puas dan cukup dengan kehidupan, sampai kapan pun! 


Semoga kita tidak terlalu sibuk mendandani raga dan mengabaikan akal dan hati, padahal kita tahu sebesar apa pun usaha, raga kita tetap akan menua, rapuh, membusuk sebelum akhirnya terurai menjadi debu. (*)

0 Comments:

Posting Komentar