Relegiusitas



Oleh Rahmatul Ummah

-

Relegiusitas atau keberagamaan adalah konstruksi sosial, karena sejatinya perilaku beragama tak memamerkan diri. Jika pun, akhirnya ia membentuk identitas sendiri, lebih pada keniscayaan yang susah dihindari. Maka bentukan sosial sikap keberagamaan itu menjadi konstruksi sosial dan budaya, yang akhirnya melahirkan bentuk keberagamaan yang beragam.

Relegiusitas berkaitan dengan hal-hal yang empirik atau parktik, realitas beragama yang dilakukan oleh manusia sebagai respon keyakinannya atas yang supranatural dan transendental. 

Abdol Karim Soroush (2001; 91) menyebut realitas beragama memiliki tiga tipe. Pertama, tipe religiusitas pragmatis, mengandalkan gerakan fisik dan praktis didasarkan kepada rasionalitas instrumental. Religiusitas ini berupaya menemukan gerakan kebenaran, yang merupakan atribut ideologis, dan menyaksikan agama sebagai pelayan beragam aspek kehidupan, seperti pelayan sistem sosial dan politik. Kepribadian religiusnya berkarakteristik historis, menekankan perbedaan dogmatis, sehingga religiusitas pragmatis menciptakan pembagian ideologis, pemilahan ahli surga dan neraka, persepsi Tuhan sebagai milik aliran sendiri, penyempitan definisi kebenaran dan perluasan definisi kepalsuan, identitas manusia sejati, penekanan untuk setiap detail perbedaan, dan pengkotak-kotakan manusia ke dalam perbedaan.

Kedua, tipe relegiusitas gnostik, mengedepankan aspek mental dan reflektif didasarkan kepada rasionalitas teoritis. Dalam religiusitas gnostik, seseorang menemukan rasionalitas yang sensitif terhadap ketepatan alasan untuk sebuah klaim kebenaran atau keyakinan. Jika religiusitas pragmatis bersifat dogmatis, maka religiusitas gnostik menimbulkan skeptis dan keheranan intelektualistik. Jika religiusitas pragmatis bersifat kolektif, maka religiusitas gnostik bersifat individual, dan dipenuhi dengan refleksi dan revisi berkelanjutan. Oleh karena itu, religiusitas gnostik tidak stabil dan fluktuatif, menolak keseragaman atau penyeragaman, kritis, investigatif, dan independen dalam kebenarannya sendiri. Religiusitas individual yang tidak seragam itu identik dengan pluralisme konsepi dan interpretasi. Dalam Islam, menurut Soroush, teolog dan mufassir adalah dua wakil utamanya.

Ketiga, tipe relegiusitas eksprensial yang mencari bukti dan manifestasi berkaitan dengan penyaksian. Jika religiusitas pragmatis menuntut kegunaan praktis, religiusitas gnostik menuntut pengetahuan rasional, maka religiusitas eksperiensial menuntut bukti, penyaksian, penyingkapan, dan manifestasi. Pada dasarnya religiusitas ini bukanlah religiusitas instrumental, mental dan teoritis. Moralitas orang-orang berkeyakinan dengan pengalaman eksperiensial adalah moralitas cinta. Jika buah cinta adalah persatuan dan kebahagiaan, maka etiket cinta adalah kerahasiaan. Dalam religiusitas eksperiensial, alih-alih kontradiksi yang berperang terus-menerus, klaim-klaim keyakinan atau kepercayaan yang berbeda satu sama lain merupakan paradoks manifestasi kebenaran yang menggairahkan. 

Sebagai produk manusia, sebagaimana sistem budaya yang digambarkan oleh Geertz, maka relegiusitas seseorang akan sangat dipengaruhi berbagai perubahan sosial. Maka, tak aneh jika pada fase-fase tertentu, identitas keberagamaan ditampilkan dalam simbol-simbol tertentu yang berbeda-beda.

Di masa lalu, barangkali relegiusitas itu terwakili oleh simbol-simbol peci dan sarung, atau kerudung. Namun, kiwari perilaku keberagamaan itu diwajahkan lebih simbolik dalam rupa lain, seperti jubah, sorban, gamis hingga cadar. Konstruksi sosial menggiring manusia untuk berkeinginan terkesan saleh, terlihat menjadi lebih relegius melalui simbol-simbol tersebut.

Bahkan, saat ini relegiusitas juga diyakini sangat dipengaruhi oleh media sosial, hatta banyak orang yang berusaha menjelaskan relegiusitasnya melalui media sosial. Seperti mengunggah aktivitas keagamaan, memanjatkan doa dan menyebarluaskan kebajikan-kebajikannya lewat media sosial. Tak hanya itu, perilaku keberagamaan yang menjamur di media sosial memunculkan para ahli agama dan mentor ruhani dadakan, bertindak sebagai nara sumber dan pemegang otoritas kebenaran tafsir agama.

Relegiusitas hasil konstruksi media sosial seperti ini dalam beberapa hal menyisakan masalah. Di media sosial setiap orang bisa menjadi pemasok informasi tentang agama, tanpa mau instrospeksi, apakah ia memiliki kompetensi berkaitan dengan hal-hal yang disampaikannya dan apakah ia memiliki otoritas menafsir ayat-ayat suci. Sedangkan di bagian lain, orang membaca setiap pesan yang disampaikannya tidak memiliki 'filter' yang bagus untuk menyeleksi setiap informasi yang diterimanya, sehingga terjadi reduksi besar-besaran terhadap makna keberagamaan. Beragama lebih cenderung menampilkan diri dengan cara menggugah emosi, sensasi dan provokasi.

Perilaku beragama yang mengandalkan emosi dan sensasi inilah yang kemudian berjodoh dengan hoax, seperti botol bertemu tutup, saling melengkapi dan melingkupi. Mereka yang terpapar model keberagamaan seperti ini, merasa tak perlu lagi melakukan verifikasi dan validasi (tabayun) atas informasi yang mereka terima, yang penting ada polesan ayat suci, sejalan dengan sentimen (emosi) mereka, langsung disukai dan disebarkan. Abai terhadap rasionalitas dan obyektifitas, lebih mengagulkan emosional dan sensional.

Jihad adalah salah satu contoh kecil yang maknanya banyak mengalami penyimpangan. Bagaimana setiap orang merasa memiliki otoritas menggandeng kata 'jihad' dengan kata 'demokrasi', 'politik', 'kekuasaan', sehingga lahir istilah-istilah baru, seperti jihad demokrasi, jihad politik, jihad kekuasaan.

Akhirnya, banyak orang bahkan para 'alim (cendekiawan) dengan sembrono menganalogikan perebutan kekuasan, kontestasi politik lima tahunan sebagai jihad, padahal yang berkompetisi memperebutkan kekuasaan adalah sesama muslim. Terminologi agama dipaksa menyesuaikan kehendak sebagian kelompok, modalnya adalah appropriasi atau cocokologi.

Menggelikan sekaligus memuakkan, mencocokkan urutan ayat atau surah di dalam Alquran dengan nomor urut, mengaitkan ayat yang berisi cerita kekufuran dan adzab dengan lawan politik, dan seterusnya. Anehnya, cocokologi ini justeru seringkali dipamerkan secara berulang-ulang, dan banyak peminatnya.

Relegiusitas yang dibangun secara instan, emosional dan sensional telah melahirkan semangat keberagamaan yang menggebu, ingin terlihat lebih agamis tetapi tak tekun belajar agama dengan serius, mengaji potongan-potongan ayat suci hanya lewat media daring, tak jelas sumber dan keshahihannya. Merasa rugi menghabiskan waktu berlama-lama duduk bersama kiai, belajar fiqih mulai dari bab thaharah, belajar tafsir mengenal Alquran dan maknanya huruf perhuruf.

Lalu, bagaimana mungkin kita mempercayakan otoritas penafsiran agama kepada manusia politis yang berkepentingan membentuk persepsi publik sesuai seleranya, lebih sering mengabaikan kebenaran ilmiah dan memajukan kebenaran emosional? Alih-alih memiliki komitmen menegakkan nilai dan norma agama, mereka justru memperburuk citra dan wajah agama, membuat umat terbelah dan saling kehilangan kepercayaan! (*)


0 Comments:

Posting Komentar