Aji Diri


Rahmatul Ummah


 Sebelum berkenalan dengan orang lain, baiknya berkenalan dengan diri sendiri, karena melupakan Tuhan sejatinya adalah melupakan diri sendiri, kegagalan mengenali Tuhan acap kali bermula karena kegagalan mengenali diri sendiri.


Banyak orang terlalu pandai menemukenali kesalahan orang lain, tetapi gagal mengenali kesalahan diri sendiri sehingga  ia tak memiliki kepandaian menata dan mendandani perilakunya. Ia bahkan tak punya waktu untuk dirinya sendiri, karena terlalu sibuk mengurusi orang lain. 


Benarlah ujar-ujar bijak 'barang siapa mengenali dirinya sendiri dengan baik, pastilah ia akan mampu mengenali Tuhannya dengan baik," atau 'barang siapa disibukkan mengoreksi dirinya, tak akan pernah memiliki waktu menyibukkan diri dengan menghitung-hitung kesalahan orang lain' untuk dipedomani dalam perjalanan mengenali diri sendiri.


Namun, upaya menyibukkan diri untuk mengenali diri sendiri, menemukan kesalahan diri dan memperbaikinya bukan berarti meneguhkan sikap cuek, bahwa kita tak boleh mengoreksi dan menasihati orang lain. Sebagai bagian dari manusia yang lain (ummatan wahidah), yang dibekali sifat kasih dan peduli, meniscayakan kita untuk terus berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesama dan makhluk semesta di sekitar kita. Tuhan pun tentu tak menginginkan kita menjadi manusia bisu, yang tunasosial.


Dalam term teologis, mengoreksi kesalahan orang lain selalu harus didahului dengan upaya mengoreksi diri sendiri (hasibuu qabla antuhasibu), koreksi atau nasihat harus dibangun kokoh di atas pondasi kebenaran, kesabaran dan kasih sayang (tawashau bil haq, tawashau bil shabr, tawashau bil marhamah), kepedulian atau koreksi atas manusia lain juga harus ditujukkan lewat keteladanan yang baik.


Pondasi kebenaran sebagai pijakan kritik mengharuskan kita untuk bisa mengenali kebenaran dengan baik. Semisal, ketika kita menasihati orang lain untuk tidak berbuat dzalim, haruslah didahului dengan pemahaman tentang konsepsi kedzaliman secara baik, benar dan komprehensif. Jangan sampai semangat melihat kedzaliman setitik pada diri orang lain, mengaburkan kesadaran sikap dzalim segunung yang menempel pada diri sendiri.


Ada banyak praktik kritik dilontarkan menggebu-gebu yang abai pada diri sendiri, sehingga kritik dan nasihatnya terlihat lucu. Alih-alih diterima dan dijalankan oleh orang yang dinasihati, justru nasihatnya jadi bahan tertawaan dan lelucon.


Menasihati orang lain agar tak pelit, jangan makan riba, tetapi dalam praktik kehidupan sehari-hari, kita senang menumpuk materi, memonopoli dan memeras keringat orang lain untuk kekayaan pribadi. Menasihati orang lain agar tidak dzalim, jangan sampai di saat yang sama kita justru sedang melakukan kedzaliman. Tuhan sangat keras memberi peringatan atas praktik jarkoni (berujar tak melakoni) ini, mengatakan hal-hal baik tapi ia sendiri tak melakukannya atau melarang perbuatan buruk sementara ia sendiri tak meninggalkannya (kabura maqtan 'indallahi an taquluu ma la taf'aluun).


Maka, di titik itu sangat penting untuk memahami secara detail kata dan laku secara benar. Nasihat yang benar, harus diawali dengan konsepsi yang benar, niat yang benar, kemudian ucapan dan tindakan yang benar.


Ketika orang memberikan respon negatif terhadap nasihat atau kritik kita, harus disikapi dengan kesabaran sebagai pondasi kedua dari bangunan nasihat itu. Bersabar atau bertahan dengan ulet dan tekun (bukan meninggalkannya). Kesabaran itu bisa ditempuh dengan beragam cara, termasuk mengoreksi metode dan melakukan evaluasi apakah nasihat yang disampaikan itu, benar-benar layak menjadi nasihat, mengapa orang lain sampai menolak nasihat itu, mengoreksi diri sebagai pemberi nasihat. Evaluasi itu harus dilakukan dengan penuh kesabaran, dan tidak boleh terburu-buru memberikan vonis kepada yang dinasihati sebagai bebal atau mati hatinya.


Nasihat atau kritik harus disampaikan dalam rangka berkasih sayang (bi al marhamah). Logikanya, tak mungkin mampu menyayangi orang lain, jika gagal menyayangi diri sendiri. Mengharapkan orang lain untuk tercegah dari mudharat, kebinasaan atau kecelakaan tetapi membiarkan diri berkubang mudharat, salah satu laku komedi, yang layak ditertawakan.


Abai untuk memahami kebenaran, memotret diri dan menghitung-hitung kesalahan sendiri akan melabuhkan kita pada sikap dan sifat lupa diri, jumawa dan merasa benar dan baik sendiri, sifat yang menjadi tabiat iblis. Sifat dan sikap yang akhirnya senang dengan keterpurukan orang lain. 


Nasihat atau kritik tak lebih dari 'kedok' untuk mem-bully dan menjatuhkan orang lain, jika tidak dibangun di atas konsepsi kebenaran, kesabaran dan kasih sayang. (*)

0 Comments:

Posting Komentar