Kita: Kebajikan atau Kebencian?


Oleh Rahmatul Ummah

-

Kebajikan adalah sesuatu yang diinginkan, tetapi jarang diperjuangkan. Nilai-nilai kebajikan adalah nilai-nilai universal. Seperti kejujuran, kesetiaan, keadilan, welas asih, penyayang semua orang mempercayai dan menginginkannya, Sebagai sesuatu yang baik, bajik dan terpuji, semua manusia berhasrat mendakunya, tetapi faktanya tak banyak orang yang secara teguh mendekapnya sebagai laku dan ucapan sehari-hari. Begitulah, realitas selalu menghadirkan paradoks.


Media sosial kita dipenuhi oleh celoteh pencitraan, bahwa segala 'keakuan' adalah wajah dari kebajikan itu. Namun, sayang kebajikan memang tak cukup di dalam niat, apalagi sekadar hayali, kebajikan sebagai tujuan meniscayakan perjuangan untuk mencapainya. Kebajikan bukanlah gerak hampa yang bisa diperoleh hanya dengan klaim.


Kebajikan tak mungkin bisa diaku oleh mereka yang mengabaikan kohesi dan antisosial, gemar mencemooh dan selalu merasa benar. Meski banyak orang jungkir balik meneriakkan soal kebajikan, teriakannya akan membentur tembok kesadaran massa dan semesta, tertolak, semakin sering ia mengaku baik, semakin naif ia terlihat.


Di sekeliling kita, fenomena sosial-relegius dipenuhi oleh klaim kebajikan. Nyaris sulit untuk membedakan mana sosok sesungguhnya dan mana bayangan. Kita terlalu sering menyerang dan membully orang lain yang berbeda, tetapi memiliki pertahanan yang teramat rapuh dan sistem imun yang tipis, jika diserang balik. Kita menjadi baperan jika idola dan pujaan kita dikritik, sehingga lebih sering tidak fokus pada serangan. Menggeser gawang agar tak kebobolan.


Dalam sebuah tulisan, Arif Budiman menulis tentang Beda Kubu Sama Laku. Menurutnya, benci ini punya kita, begitu pula cinta. Kita sama memilikinya. Hanya berbeda letak arahnya. Apa yang aku benci, justru itulah yang kamu cintai. Sebaliknya, apa yang aku cintai justru itulah yang kamu benci. Kita berbeda dalam menatap. Aku menuju Barat, sementara kamu memandang Timur. Aku merangkul Utara, sedangkan kamu mendekap Selatan. Namun, kita sama dalam cara memicingkan mata. Kita sama dalam merangkai kata. Kita sama dalam ekspresi benci dan cinta.


Hal tersebut menegaskan, bahwa acap kita temui setiap orang berbeda kubu, entah itu kelompok yang dituding intoleran atau malah yang menganggap dirinya toleran, berhadap-hadapan secara diametral, tetapi justeru memiliki kesamaan, memiliki jurus yang sama, memainkan musik yang sama, dan memiliki perbendaharaan kata yang sama, masing-masing memaki setiap hari, menggelar serapah yang sama di ruang publik yang sama.


Semua mengaku baik dan benar, semua adalah kebajikan. Entahlah, meminjam istilah Budiman, setan menjadi dua, malaikat pun berwujud ganda, setanmu jadi malaikatku, malaikatmu jadi setanku. Terlebih-lebih urusan politik, atas segala yang ada di langit dan di bumi, kita merawat kristal benci, padahal sebelumnya, kita sering bertemu di perhentian yang sama, sering melempar pandangan ke arah yang sama, kita saling mencela, padahal sesungguhnya kita adalah tetangga yang ramah dan sering bekerjasama.


Gara-gara politik tanpa ideologi itu, kini kita sering bersitatap dengan penuh kaku, terpaksa bersalaman dan bertukar sapa dengan terbata-bata, sembari mengingat sumpah serapah yang pernah sama-sama kita tabur di media sosial, mungkin menyesali benci yang bermukim di hati atau malah memupuk amarah mengincar lengah. Kita sama menelan ludah yang mengering di kerongkongan, menertawai luka yang diderita.


Aih... Ada apa sebenarnya? Bukankah kita gandrung kebajikan yang sama, kita sedang memperjuangkan kebenaran yang sama. Kita memiliki pengertian yang sama soal kejujuran, keadilan dan kesejahteraan, lantas kenapa kita memiliki tafsir yang berbeda hanya karena soal kubu politik tanpa ideologi itu?


Kita adalah representasi dari seluruh masyarakat yang terbagi. Orang yang kita tunjuk bego dan bloon, barangkali memang kurang baca dan bodoh, tetapi apakah lantas kita yang rajin dan pandai, menjadi halal melontarkan sumpah serapah, menjadi dipermaklumkan untuk mencaci? Apakah hanya mereka yang bodoh yang harus tunduk pada moralitas kata-kata, dan yang pandai bebas memuntahkan apa saja?  


Kita tidak bisa membayangkan bagaimana populisme menjadi diktator, ketika para intelektual menjadi pembeo, mahasiswa kehilangan nalar kritisnya, penguasa berdiri angkuh anti kritik. Barangkali, sudah waktunya kembali membaca buku Bagaimana Demokrasi Mati, bukan untuk menajamkan mata agar nanar memandang orang lain sebagai pihak yang salah, melainkan mengasah mata batin, untuk menemukenali potensi pembunuh kebebasan (demokrasi), pemberangus perbedaan dalam diri sendiri.


Kita, jangan-jangan berbeda kubu tetapi sama kelakuan, sama-sama pemelihara benci dan dengki, peternak permusuhan yang piawai membiakkan hura-hara dan dendam. Jika, iya. Pilihannya hanya dua: melestarikan postingan-postingan penuh hasutan-kebencian atau kembali menjadi manusia yang setia pada akal sehat, nurani dan kewarasan. (*)

0 Comments:

Posting Komentar