Kedengkian


Oleh Rahmatul Ummah

-

Kedengkian dan kebencian hanya akan melahirkan kebencian dan kedengkian pula. Apapun bentuknya, kebencian membuat sumpek dan sempit hati. 

Setiap hari manusia selalu disibukkan mendandani jasadnya, berharap ia mendapatkan kepuasan dan kebahagian. Namun, berulangkali hal tersebut dilakukannya, berulangkali pula kekecewaan ia rasakan. Ia tak pernah puas dan bahagia. 

Manusia lupa bahwa kepuasan dan kebahagian itu bisa diraih dengan mendandani ruhani. Membersihkan hati dari segala daki yang bisa membuatnya kusam, hitam dan berkarat. Salah satunya adalah dengan mengikis kebencian dan kedengkian.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kedengkian adalah menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain.

Imam Al-Ghazali menjelaskan kedengkian (hasad) sebagai membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu.

Kebencian ibarat pisau pencukur. Kebencian memangkas kebaikan dalam diri manusia. Rasulullah saw. bersabda: “Penyakit umat terdahulu telah merambah kepada kamu semua yaitu: kebencian dan kedengkian. Kebencian itu adalah pencukur. Aku tidak berkata pencukur rambut, tetapi pencukur agama.”

Bahkan, Rasulullah saw. mengatakan: "Tidak akan bertemu dalam diri seorang hamba, keimanan dan kedengkian." (HR Imam Nasa'i dan Ibnu Hibban). Dalam hadits lain, Rasulullah menegaskan: "Manusia akan tetap berada dalam kebaikan, selama ia tidak mempunyai rasa dengki." (HR. Thabrani).

Kedengkian lazimnya merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, kalah popularitas, kalah pengaruh, atau kalah pengikut. Yang didengki tentulah pihak yang dianggapnya lebih dalam hal wibawa, popularitas, pengaruh, dan jumlah pengikut. Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia menuliskan: "Manusia Indonesia juga cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih dari dia. Orang kurang senang melihat orang lebih maju, lebih kaya, lebih berpangkat, lebih berkuasa, lebih pintar, lebih terkenal dari dirinya."

Namun, kedengkian ternyata bisa menghinggapi hati siapa saja. Ciri utamanya, bersedih hati melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah, selalu menganggap orang lain sebagai pesaing dan ancaman, meski tidak ada ancaman apapun terhadap dirinya.

Orang yang dengki, biasanya orang yang pemikirannya keruh. Jauh dari obyektif dan berkehendak selalu menyudutkan. Komentarnya selalu buruk, postingannya di media sosial selalu tidak mengenakkan, tetapi begitulah caranya melampiaskan hasrat dan berusaha puas.

Mendandani hati memang tidak semudah mendandani jasad, ia harus mampu menjadi manusia ruhani. Ia harus melepaskan diri dari keterikatan pada materi, mampu mengendalikan amarah, senantiasa membuka ruang maaf bagi segenap manusia yang lain, ia tak sungkan mengakui kesalahan, tak juga enggan untuk kalah. 

Sebagaimana gagal mendandani jasad, kegagalan mendandani hati akan mewajah pada laku tidak percaya diri. Bedanya, yang satu tampak dan bisa langsung dinilai orang lain, yang satu tersembunyi dan bisa dirahasiakan. Hati yang rapuh dan sakit seringkali bersembunyi di balik kesempurnaan tampilan jasad.

Untuk itulah, banyak yang berpura-pura bahagia dengan menampilkan kebahagian semu, menuliskan kata 'bahagia itu sederhana', tapi diam-diam hatinya mengakui bahwa kebahagiaan tak sesederhana kata-kata yang dituliskannya.

Kedengkian adalah salah satu penyebab. Ia laksana api yang membakar ranting kering di musim kemarau. Kedengkian menyeret pelakunya untuk menggunjing, menularkan kebencian, maka Tuhan mengajarkan kita berdoa untuk berlindung dari kejahatan pendengki apabila ia sedang mendengki (min syyari hasadin idza hasad)

Semoga kita bisa menghindarkan diri dari pendengki dan perilaku dengki! (*)


0 Comments:

Posting Komentar