Berteman Tanpa Pamrih


Rahmatul Ummah

-

 Satu waktu, di satu malam yang terus beranjak menuju pagi, seorang kawan melontarkan pernyataan, "saat elo meminta pertolongan atau mengajukan permohonan bantuan kepada seseorang, maka pertanyaan yang wajib elo jawab, kenapa orang itu harus membantu elo? Apa pentingnya elo atau kegiatan elo buat dia?"


Setengah kaget, aku merespon pertanyaan itu dengan diam. Hampir satu menit, sebelum akhirnya kawan tadi melanjutkan. "Ya, iyalah. Coba elo bayangkan, seseorang tiba-tiba datang membawa proposal, bicara panjang lebar soal kegiatan yang akan ia laksanakan, kemudian direspon hanya dengan pertanyaan singkat dari pihak yang diminta menjadi sponsor atau donatur tersebut, 'apa penting atau untungnya buat gue dan perusahaan gue?"


Mutualisme! Ya, kawanku ini sedang bicara tentang hubungan timbal balik yang saling menguntungkan, sekaligus menegaskan di aliran pemikiran mana ia berdiri dan menentukan posisi!


Aku tak ingin membantah soal pernyataan tersebut, dan juga tak ingin membahas soal aliran pemikiran mana yang menjadi kiblatnya menentukan sikap, karena betapa pun semua aliran pemikiran memiliki kebenaran dan subyektivitas masing-masing. Terlebih, tentang urusan bisnis yang selalu dihitung berdasarkan untung-rugi, dan nyaris seluruh sendi kehidupan dinilai sebagai bisnis. Berteman, bergaul dan berinteraksi setiap hari, hampir setiap orang tak bisa meninggalkan dan menanggalkan 'baju' apa dan siapa!


Teramat langka menjumpai orang, yang mau berinteraksi secara telanjang, tanpa asesoris status sosial, kaya-miskin, elit-alit, baik-buruk, pandai-pandir, bersih-kotor. Berteman harus dengan alasan, saya berkawan dengan dia, alasannya: karena orangnya baik, karena orangnya santun, karena orangnya keren, karena orangnya pintar, karena orangnya relegius, karena orangnya bersih, dan seterusnya.


Lantas, kenapa kamu tidak lagi berkawan dengan dia? Alasannya: karena tak cocok, karena dia nyebbelin, karena dia sok pinter, dan seterusnya. Selalu ada apanya, bukan apa adanya. Doktrin teologis seolah menjadi pembenaran untuk memilih dan memilah kawan, 'jika engkau ingin melihat akhlak seseorang lihatlah siapa temannya,"  atau mahfudzat (bukan hadits) yang terkenal, "berkawan dengan tukang las ikut berbau karbit, berkawan dengan tukang minyak wangi, berbau harum!"
Kelirukah kehidupan seperti itu? 


Keliru-tidak keliru atau benar-salah itu hanya lahir dari penilaian, tak ada yang sepenuhnya keliru, pun tak ada yang selamanya benar. Hidup harus dijalani dengan lentur, terkadang selektif berkawan adalah perlu, tetapi di lain waktu harus siap guyub dengan siapa saja. Bahwa, keseluruhan manusia, senyatanya adalah gambaran setiap individu. Aku terkadang adalah si A yang baik, aku juga si B yang jahat, aku si C yang emosional, aku si D yang sombong, dan lain-lain.


Berhitung untung-rugi, tak selalu keliru. Namun, menjadikan untung-rugi sebagai kompas melayari kehidupan, bisa menyeret orang pada samudera luas tak bertepi, terpintal arus dan akhirnya karam, menyesatkan! Bayangkan saja, saat kita membutuhkan orang lain, dan di saat yang sama orang tersebut tak perlu, tak membutukan kita, dan spontanitas mengajukan pertanyaan serupa yang diajukan kawanku di atas, "apa untungnya buat gue berteman dengan elo?" tentulah menyisakan kecewa dan sakit di hati. 


Artinya, jika berteman dan ingin membantu, maka tak perlu banyak alasan, berbuat baik tak perlu berharap balasan kebaikan yang sama, bantu ya bantu saja, karena hakikatnya kebaikan adalah kebaikan, tak memiliki ketergantungan terhadap apa pun! Kebaikan akan tetap menjadi kebaikan, meski ia dibalas/diperlakukan buruk.


Isi dunia, bernama manusia tak ada satu pun yang memiliki sifat tunggal dan mutlak, manusia memiliki dua sifat bertentangan, berpotensi sama besar untuk menjadi baik dan jahat. Lihatlah, orang mengeluh karena hari sedang hujan, yang lain mengeluh karena tidak hujan.  Matahari disambut dengan senyum oleh seorang yang lain, tetapi disambut cemberut oleh seorang lainnya. 


Baik buruk, jika dikalkulasi berdasarkan untung rugi, akan selalu samar. Tahi kerbau, pastilah buruk ketika dinilai oleh orang yang tak bisa mengambil keuntungan (dirugikan) dari tahi kerbau itu, tetapi bagi yang lainnya baik, bermanfaat sebagai pupuk yang menyuburkan tanah (diuntungkan). Pahamilah, bahwa tidak setiap yang kita suka dan menurut kita baik, harus disukai dan baik menurut orang lain. 


Kehidupan itu bukanlah selera orang perorang.


Hidup bukanlah menetapi satu sudut sempit dan menjalani kehidupan berdasarkan satu sudut pandang, kita memerlukan kalimatun sawa' (common platform), menepis sedikit perbedaan dan menemukan banyak titik temu, tentang fitrah kemanusiaan yang hanif, kecenderungan (gharizah) untuk saling menggenapi, tak ada manusia yang tak memerlukan manusia yang lain.


Kata seorang kawan, "olahlah kawan yang layak diolah, bantulah kawan yang layak dibantu!" pendapat ini tentulah bukan rujukan, karena kalimat itu tak berasal dari kitab suci, tetapi memosisikan setiap orang sesuai kompetensi dan kapasitasnya tentu tak bertentangan dengan kitab suci, setiap orang penting sesuai porsinya masing-masing.


Kitab suci, bicara soal kelapangan hidup seluas langit dan bumi, di mana hati selalu berterima kasih, berbagi kasih atas apa yang diterima, di kala lapang maupun sempit, menundukkan amarah, memaafkan segenap manusia, sehingga tak seorang pun dipandang bersalah, nrimo atas lakon yang diamanahi, tak menuntut lebih, tak berharap banyak, meminta maaf dan memohon ampun kala lupa dan berbuat salah.
Kehidupan manusia selalu memiliki keterhubungan bahkan bukan hanya dengan manusia lainnya, melainkan dengan alam semesta dan seluruh isinya.


Bukankah umat terbaik (khairu ummah) mesti khuruj (keluar) menemui manusia untuk menganjurkan mereka berbuat baik, memberi penerangan kepada semesta dengan penuh kasih, agar kehidupan tak menjadi gulita?


Jika menjalani hidup secara kaku, betapa eksklusifnya kehidupan. Orang-orang yang hanya mau berkawan dengan manusia yang setipe, yang hanya menguntungkan bagi dirinya, suatu masa ia hanya akan meratapi kehidupan yang jenuh dan monoton. 


Tentu engkau tak ingin, ketika suatu waktu butuh teman untuk sekadar melepas keluh-kesah, mencurahkan isi hati, lalu ia menyambutmu dengan kata-kata: "Gue enggak merasa diuntungkan ngobrol dengan elo!" 


Maka, mulai pelan-pelan menggeser cara pikir untung-rugi itu. Kebaikan itu melampui materi, sebagai karakter permanen tentu teramat naif jika mendasarkannya kepada kalkulasi untung-rugi! (*)


0 Comments:

Posting Komentar