Rumah Kertas Carlos


Rahmatul Ummah

-

Novel berjudul asli La ca de papel ini seksi, menggoda dan menggairahkan. Membacanya barangkali hanya butuh waktu sejam, tetapi belum tentu menundukkannya. Selalu tersisa penasaran untuk terus bergumul atau menggumulinya.  

Rumah Kertas begitu terjemahan bahasa Indonesia-nya, memang menjadi salah satu bacaan pavorit hampir semua penyka buku. Tokoh-tokohnya unik, terutama soal cara pandang mereka memperlakukan buku. 

Novel ini cukup berbahaya, (mungkin juga) seperti buku-buku lainnya. Paling tidak menurut kesimpulan saya setelah membacanya. Di halaman-halaman awal, Carlos Maria Domingues begitu nama penulisnya, telah menunjukkan bagaimana Bluma harus meninggal tertabrak mobil di tikungan jalan, karena sedang asyik menyusuri baris-baris Poem karya Emily Dickinson. Dan, tentu saya tak menginginkan hal serupa terjadi pada Anda saat membaca Rumah Kertas ini sembari berjalan di trotoar Kota Metro yang masih tak ramah pejalan kaki.

Menurut Carlos Maria Domingues, buku mengubah takdir banyak orang. Membaca petualangan Sandokon dalam Bajak Laut dari Malaysia mendorong orang menjadi profesor sastra di universitas-universitas terpencil, Shiddartha membuat puluhan ribu anak muda menggandrungi kebatinan, Ernest Hemingway si peraih ragam penghargaan, mulai dari Hadiah Pulitzer tahun 1953 hingga Hadiah Nobel Sastra tahun 1954 yang terkenal lewat salah satu karyanya The Old Man and the Sea itu, telah mendorong orang untuk terus optimis dan kuat.

Lepas dari cerita itu, di negeri ini, tentu kita tak akan pernah lupa, bagaimana rezim Orde Baru sangat ketakutan dengan buku. Bahkan, hingga kini secara genetik dari sisa-sisa rezim itu, masih terus menggalakkan razia buku. Dan andai mereka tak menyepelekan buku tipis ini, mereka tentu merasa wajib merazianya. Isi buku ini bisa merasuki dan mendiami setiap kepala, mengubah cara pandang, memprovokasi orang untuk melawan.

“Buku tipis yang bisa menghantui pembaca jauh sesudah ditutup.” Begitu tulis New York Times tentang buku ini.

Novel Rumah Kertas ini berkisah tentang sebuah petualangan yang dimulai dari paket berisi buku tua The Shadow Line karya Joseph Conrad, ditujukan untuk Bluma Lennon, seorang dosen nyentrik nan sensual,  dan sialnya telah meninggal karena buku sebelum menerima paket itu, sehingga mendorong tokoh Aku, asisten Bluma berniat untuk mengembalikan buku tersebut kepada pengirimnya, atau lebih tepatnya penasaran menelusuri dan mengetahui siapa pengirim buku tersebut untuk menyingkap tabir rahasia Bluma yang pernah berbagi ranjang dengannya.

Petualangan dan pencarian Aku dimulai.

Aku mendatangi tempat-tempat konferensi yang biasa dihadiri Bluma, perjalanan yang kemudian menakdirkannya bertemu dengan Agustin Delgado, seorang bibliofil yang memiliki koleksi lebih 18 ribu judul buku, sosok yang bukan hanya membeli buku dan membacanya, tetapi juga menyimpannya di dalam rak-rak lemari yang terbuat dari bahan pilihan antiserangga. Memberikan catatan-catatan atas buku yang dibacanya di kertas terpisah (lain), agar buku tersebut tetap rapi dan bersih, memiliki waktu membaca paling sedikit 4 jam sehari.

Pertemuan Aku dengan Delgado, menjadi petunjuk baginya bertemu si pengirim paket, Carlos Brauer, seorang biobliofil istimewa yang aneh. Meski sama-sama penyuka buku, seperti Delgado, Carlos yang memiliki koleksi lebih dari 20 ribu judul buku, nyaris tak menyisakan ruang di rumahnya untuk tidak terisi buku, bahkan ia merelakan tempat tidurnya dipenuhi dengan buku-buku, hingga menyentuh plafon. Carlos lebih rela mengungsi dan memilih tidur menyempil daripada membiarkan buku-bukunya tak mendapatkan tempat yang ‘layak’. Dan, Carlos saar terjaga, akan membaca buku sepanjang siang dan malam.

Bertolakbelakang dengan Delgado, Carlos Brauer selalu mencoret-coret halaman buku yang dibacanya. Ketika Delgado memperingatinya agar tak merusak edisi-edisi berharga itu dengan coretan, dan menyebutnya tak peka, maka ia akan menyebut balik Delgado sebagai sok suci. Menurutnya, bahwa dengan menulis marjin-marjinnya dan menggarisbawahi kata-kata di buku tersebut, kerapkali dengan warna berbeda-beda yang mengandung sandi tertentu, ia bisa lebih menangkap maknanya.

“Aku senggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme.” Ujar Carlos. (hal. 32)

Agustin Delgado dan Carlos Brauer, adalah dua wakil yang bisa menjadi rujukan para penyuka buku. Delgado yang merawat dan memosisikan buku sebagai harta berharga, merawatnya dan menempatkannya secara istimewa dan hati-hati, serta Brauer yang memosisikan buku miliknya sebagai ‘kekasih’ yang harus dijamah, dan wajib memiliki ‘bekas’ sebagai tanda bahwa ia memang telah ‘orgasme’ membaca buku tersebut.

Membaca novel ini, paling tidak akan memberikan informasi, di posisi mana kita berdiri sebagai penyuka buku, di antara bibliofil-bibliofil yang dibagi oleh Carlos Maria Domingues pada dua golongan. Pertama, kolektor. Bibliofil yang bertekad mengumpulkan buku edisi langka, artikel, majalah atau buku-buku bertanda tangan penulisnya, sekali pun mereka tak pernah membukanya selain untuk melihat halaman-halamannya (daftar isi). Kedua, para kutu buku. Pelahap bacaan yang rakus, seperti Brauer, yang sepanjang umurnya membangun koleksi perpustakaan yang penting. Pecinta buku tulen, yang sanggup mengeluarkan uang yang tak sedikit, untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam (hal. 17).

Begitulah, membaca buku sesungguhnya bukanlah menelusuri aksara semata, melainkan juga menemukan kekuatan untuk ‘menjadi’, dan untuk itu pilihan bacaan akan sangat menentukan keinginan kita untuk mendapat dan menjadi ‘apa’. (*)


_____

Data Buku:

Judul: Rumah Kertas (La ca de papel) | Penulis: Carlos María Domínguez | Penerbit: Marjin Kiri | Penerjemah: Ronny Agustinus | Tahun terbit: 2016 | Jumlah halaman: vi + 76 halaman | ISBN: 978-979-1260-62-6

0 Comments:

Posting Komentar