Pulang



“…/It is time for us to kiss the earth again/ It is time to let the leaves rain from the skies/ Let the rich life run to the roots again/….”

(Return, Robinson Jeffers)


***


Angin basah dini hari, memcumbui setiap inci kulitku. Hujan baru saja pergi, meninggalkan gigil pada daun-daun. 


"Pulanglah...!"


Sebuah suara yang tak seberapa kupahami. Samar. Entah darimana berasal. Panggilan dari jauh ataukah bisikan dari hati yang telah lama membeku? Barangkali juga penggalan lirih dari puisi yang ditulis Robinson Jeffers. 


Menghentak dan mencairkan rasa untuk kembali, pulang.


Pulang adalah mencari akar muasal, menziarahi masa kecil dan memunguti kembali kebudayaan di mana dulu aku bermula, di pagi hari menciumi harum tanah pulau selepas hujan dan menikmati cahaya kuning kemerahan yang membias di atas permukaan laut kala senja.


"Pulanglah...!"


Kata itu menggema dalam relung, berulang-ulang. Serupa Emak merapal mantera di tengah sahara rindu, sunyi nan khusyuk.


"Jika tak ada yang memberatkan langkah, tak ada yang menahan pundak, kampung halaman tentulah suka menanti. Nyiur yang melambai di sepanjang tepian pantai, pekarangan yang membentang tak terurus, tentulah merindu untuk dijamah. Rumah senyap tanpa canda, menanti pulang."


Pulang adalah jalan takdir semua manusia. Tak ada yang tak ingin pulang, dan tak ada yang bisa menolak pulang.


Meski Emak, tak pernah berterang menyeru untuk pulang. Namun, semua anaknya yang telah berkeluarga pastilah paham, tiada yang lebih membahagiakan selain berkumpul bersama anak-anak tercinta, apalagi kala keinginan terhadap nikmat dunia telah memudar, di kala hidup tak sepenuhnya lagi menarik.


Aku membayangkan Emak yang telah renta, berjalan tertatih sembari berpegang pada dinding-dinding rumah. Terlalu sering Emak menyembunyikan kepedihan dan inginnya, hanya agar anak-anaknya bahagia. Memendam rindu tanpa mengaku. Cinta yang benar-benar tanpa pamrih, abadi sepanjang masa, rela mengorbankan kebahagian sendiri untuk kebahagiaan anak-anaknya.


"Sehat dan baik-baik saja," begitulah Emak ketika ditanya tentang kabar lewat sambungan telepon. Tak seperti aku, anaknya yang selalu pandai mengeluh, mengaku rindu tetapi enggan bertemu, cinta yang berbalut kepalsuan. Bermanis kata agar indah didengar, memaksa Emak untuk berpuas dan mengaku telah lepas rindu dan telah senang hatinya, meski hanya bertemu suara di ujung telepon.  


Betapa tak pandai aku memahami binar mata Emak yang penuh bahagia, memeluk cucunya setiap kali bertemu kala lebaran lima tahun yang lalu. Momen langka berbilang tahun.


"Pulanglah...!"


Kini kata-kata itu menggema. Menyeretku ke masa lalu, masa kanak-kanak. Mengenangkan kenakalan yang kelewat batas. Sepulang sekolah, bukan mengucap salam dan mencium tangan Emak yang lelah bekerja sepanjang hari. Aku lari ke dapur, melemparkan makanan lantaran lauk tak sesuai selera. 


Jika sudah begitu, Emak hanya bisa menatap dan menangis terisak. Dan aku malah memaki puas. Menyaksikan jemari Emak memunguti nasi yang berserakan, membersihkan dan menyimpannya, terkadang membuat sesak dan menyesal, tetapi selalu berulang di lain hari, tak terbilang berapa kali.


Suatu senja, selepas bermain di pantai, aku pernah mendapati Emak diam-diam mencuci nasi yang telah bertabur tanah, menempatkannya di tempat berbeda dari makanan yang dihidangkan untuk keluarga. Emak memakannya sendiri.


Pulanglah ...


***


"Saatnya kita pulang. Mendekatkan anak-anak dengan laut," kataku setelah berpekan menapakuri panggilan yang setiap senja memekik dalam sanubari. Didera berlaksa kenangan bersama Emak, kenangan yang tak mengenakkan hati.


"Pulang?" tanya Istriku.


Aku mengerti, pastilah menjadi keputusan berat bagi istriku, karena ia juga harus berpisah, meninggalkan ibu yang merawatnya sejak kecil. Belum pernah terpisah jauh. Dan kini aku mengajaknya untuk pergi dan menetap di tanah kelahiranku, Pulau Saur, pulau yang bukan hanya jauh, tetapi juga sulit dijangkau. Ditempuh berhari-hari, menyesuaikan jadwal kapal 'Perintis' yang kadang tak berlayar, jika cuaca buruk, pulau tanpa listrik dan akses komunikasi. Pulau yang akan mencipta jarak, ia dan orang tuanya.


Laut biru nan indah dan senja merah merekah yang memantulkan sinarnya di atas permukaan laut, tentu menjadi pemandangan yang menyenangkan bagiku, tetapi dibaginya bisa menjadi biru rindu yang menggelisahkan.


Jarak memang seringkali menjadi masalah. Meski berdekatan dengan orang tua tak selalu mencipta ruang bahagia, tak selalu melahirkan lukisan-lukisan indah, sehingga terkadang setiap manusia memerlukan jarak dan jeda untuk bisa saling memahami, membaca isyarat dan tanda cinta kasih dari jauh, membayang kenangan pahit dan manis masa lalu untuk bisa saling merindu. Namun, berjauhan dari yang dicintai tentulah lebih menyedihkan.


"Sesekali pasti kita juga akan pulang ke sini," aku meyakinkan dan menguatkannya bahwa pulang ini hanyalah sementara, hanyalah soal pulang dan pergi, soal menetap di satu tempat lebih lama, bukan soal menutup segala mungkin untuk bertemu, apalagi melupakan sama sekali.


Setelah membereskan segala keperluan untuk di bawa, membawa sisa-sisa barang yang masih bisa dimanfaatkan ke tempat saudara dan sebagian lagi memberikannya ke tetangga. Malam sebelum keberangkatan kami menuju pulau yang akan menjadi tempat tinggal baru bagi kami, kami menginap di tempat mertuaku sekalian berpamit dan meminta doa. Malam itu barangkali menjadi malam tercepat yang dilalui istriku.


Pagi-pagi buta, istriku telah sibuk di dapur. Mungkin ia ingin melayani orang tuanya sebaik mungkin, di hari terakhir kami berkumpul bersama.


Aku ikut terbangun dan menyaksikan semuanya masih terlelap di ruang tengah rumah. Subuh masih setengah jam lagi. Suara lantunan murattal baru saja terdengar dari musholla dekat rumah.


Aku kembali mengecek barang-barang bawaan, menyiapkan tiket yang telah ku beli tiga hari lalu. Pukul 14.00 waktu keberangkatan yang tertulis di tiket, menggunakan bus malam langsung menuju Surabaya.


Kami berkemas. Isak tangis mengiringi.


"Pergi dan pulang itu hanyalah persepsi. Saat kita pulang selalu ada yang menganggap kita pergi, selalu ada yang merasa ditinggalkan dan selalu ada yang dianggap meninggalkan." Aku berkata lirih, seperti bicara pada diri sendiri di atas bus yang akan menjadi tempat tinggal kami selama lebih dari 24 jam.


Lia menunduk tanpa kata-kata. Bus bergerak pelan, meninggalkan Kota Metro.



0 Comments:

Posting Komentar