Kota Metro dan Kreatif Minoritas

 



Rahmatul Ummah

-

Arnold Toynbee memperkenalkan sejarah dalam kaitan dengan challenge-and-response. Peradaban muncul sebagai jawaban atas beberapa satuan tantangan kesukaran ekstrim, ketika "minoritas kreatif" yang mengorientasikan kembali keseluruhan masyarakat. Minoritas kreatif ini adalah sekelompok manusia atau bahkan individu yang memiliki self-determining (kemampuan untuk menentukan apa yang hendak dilakukan secara tepat dan semangat yang kuat). Dengan adanya minoritas kreatif, sebuah kelompok manusia akan bisa keluar dari masyarakat primitif.


Sebuah kelompok kecil yang tidak pernah berhenti memproduksi gagasan-gagasan kreatif dan terus berkarya, entah apapun bentuk dan profesinya, dipublikasikan atau tidak adalah penjelasan dalam tataran praksis apa yang dimaksudkan oleh Toynbee sebagai minoritas kreatif tersebut.


Sejarah peradaban Islam yang dibawa Muhammad SAW, jauh sebelum teori yang dibangun oleh Toynbee sesungguhnya juga dibangun oleh kelompok kecil yang kreatif atau lebih dikenal dengan ashabiqunal awwalun (sahabat mula-mula) yang berjumlah tak lebih dari 10 (sepuluh) orang.


Komunitas-komunitas kecil yang terus bergerak di Kota Metro, tanpa bermaksud menyamakannya persis sebagaimana kelompok sahabat Rasulullah yang membangun peradaban Islam di Makkah dan Madinah sebelum menjadi peradaban besar dunia, paling tidak memiliki kesamaan potensi dan konsep dengan istilah creative minority yang dipopulerkan oleh Toynbee tersebut.


Sebenarnya, komunitas kecil kreatif di Kota Metro telah banyak lahir, tetapi ada yang patah tak tumbuh, hilang tak berganti. Konsistensi perjuangan mereka tak lulus dan lolos ujian. Gagal membangun harmoni keragaman, warna pemikiran dan kultur, meski sejak awal komitmen mereka menegaskan bahwa kebersamaannya ada di kalimatun sawa (common platform) ‘kebajikan dan kebenaran’.


Kebajikan dan kebenaran yang tak hanya didiskusikan tapi juga dikerjakan, “kebaikan saja tidaklah cukup”, maka tak perlu diskusi berlama-lama untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang telah disepakati dan disanggupi, kemaslahatan untuk publik, maka tak ada alasan untuk menolak dan tak melakukannya.


Untuk itu, penting kembali menegaskan bahwa sejak awal bangunan komunitas, sejak awal bertemu dan berkumpul, berkomitmen untuk mengukuhkan etika pertemanan bahwa materi tak boleh menjadi orientasi dalam kerja-kerjanya, pertemanan yang dibangun di atas materi pasti tak akan pernah lebih panjang usianya dari materi tersebut. Dalam konteks inilah komunitas bisa bertahan selain sebagai minoritas kreatif juga sebagai social capital.


Sosial capital atau modal sosial didefinisikan oleh Francis Fukuyama sebagai serangkaian nilai dan norma informal yang dimilki bersama di antara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjadinya kerjasama di antara mereka. Tiga unsur utama dalam modal sosial adalah trust (kepercayaan), reciprocal (timbal balik), dan interaksi sosial.


Trust (kepercayaan) dapat mendorong seseorang untuk bekerjasama dengan orang lain untuk memunculkan aktivitas ataupun tindakan bersama yang produktif. Trust merupakan produk dari norma-norma sosial kooperation yang sangat penting yang kemudian menunculkan modal sosial.


Fukuyama (2002), menyebutkan trust sebagai harapan-harapan terhadap keteraturan, kejujuran, perilaku kooperatif yang muncul dari dalam sebuah komunitas yang didasarkan pada norma-norma yang dianut bersama anggota komunitas-komunitas itu.Trust bermanfaat bagi pencipta ekonomi tunggal karena bisa diandalkan untuk mengurangi biaya (cost), hal ini melihat di mana dengan adanya trust tercipta kesediaan seseorang untuk menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan individu.


Komunitas (apa pun) adalah ikhtiar kemanusiaan untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada alam semesta dan isinya. Pegiat komunitas harus menyadari betul bahwa mereka saling membutuhkan untuk selalu saling merawat, menjaga dan mengembangkan. Bahwa hampir musykil bagi warga komunitas kreatif untuk menjaga konsistensi kebaikan dan kebenaran yang diperjuangkan tanpa kehadiran orang lain.


Ala kulli hal, infrastruktur dinamis dari modal sosial sebagaimana ditulis oleh Putnam (1993) berwujud jaringan-jaringan kerjasama antar manusia. Jaringan tersebut memfasilitasi adanya interaksi dan komunikasi, memungkinkan tumbuhnya kepercayaan untuk memperkuat kerjasama. Mereka membangun inter-relasi yang kental, baik yang bersifat formal maupun informal. Rusaknya modal sosial bukan karena sering dipakai, tapi karena acapkali jarang dipergunakan.


Tak berlebihan jika semua komunitas di Kota Metro selalu didoakan untuk terus menerus berbuat dan mengampanyekan khairunnas anfa’ahum linnas, bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi kemanusiaan. Meletakkan kemanusiaan (kebajikan dan kebenaran) sebagai yang abadi, di atas segala materi (yang fana). Semoga. (*/RU)


0 Comments:

Posting Komentar