Pilkada dan Paradoks Wajah Kota Pendidikan





Rahmatul Ummah 
_

Kota Metro telah bermetamorfosis dalam sejarah yang begitu panjang, dari Bedeng ke Kota. Bedeng itu, kini menegaskan diri sebagai Kota Pendidikan, visi yang tidak hanya didasarkan pada megahnya bangunan lembaga pendidikan dan tingginya Indek Prestasi Manusia (IPM)-nya, tetapi juga gambaran warga ideal sebagai learning society (masyarakat pembelajar) yang makmur dan sejahtera, begitulah tangkapan tertulis dari teks dalam lembaran-lembaran Rencana Pembangunan Jangka Pangjang (RPJP) Kota Metro yang hampir genap berusia satu dasawarsa.

Pemerintah kota, selain berikhtiar membangun fisik kota, beberapa hal yang dirintis juga perlu diapresiasi, perpustakaan daerah yang berdiri di tengah kota, pemberlakuan jam belajar masyarakat, pendirian Rumah Pintar di setiap kelurahan.

Saat ini Metro sedang meletakkan dasar bagi perkembangan sebuah kota masa depan. Ruang publik dan hutan kota dirawat dan ditambah untuk paru-paru kota dan tempat komunikasi warga. Jalan protokol dan jalan utama dihijaukan. Ruas jalan masuk dan keluar Metro dilebarkan.

Pagi hari, jalan-jalan di Kota Metro akan dijejali oleh kendaraan yang dipadati anak-anak sekolah, tidak hanya berasal dari Kota Metro,, tapi juga berasal dari dua Kabupaten tentangganya, Lampung Tengah dan Lampung Timur, tampilan dan pemandangan tersebut tu menjadi penyempurna alasan bahwa Kota Metro memang benar-benar telah layak menjandang predikat sebagai Kota Pendidikan.

Tapi benarkah Kota Pendidikan hanya sebatas apa yang tampak dan terlihat dari penampilan fisiknya? Martin Luther King pernah mengingatkan terkait dengan pendidikan “intelligence plus character….that is the goal of true education.” Lantas apa hubungannya karakter dengan kota pendidikan? Bagaimana cara mengukur karakter yang tertanam pada setiap pribadi warga kota, sehingga bisa dihubungkan dengan karakter pendidikan dan visi kota?

Pilkada dan Kota Pendidikan

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Metro telah menetapkan bahwa hari pencoblosan untuk pemilihan kepala daerah (Pilkada) adalah Rabu, 9 Desember 2015. Meski belum ada yang ditetapkan sebagai calon, karena tahapan dan jadwal pendaftaran calon belum dimulai, telah banyak banner, baliho, pamflet bakal calon yang menempel di pohon-pohon penghijauan, tiang listrik dan telpon, maupun di pagar-pagar rumah di jalan-jalan protokol yang sebenarnya dilarang berdasarkan Perda No.

Saya telah menulis sebelumnya, tentang Sampah Visual dan Demokrasi Kita (Lampung Post, 2 April 2015) dan Hipokrasi Calon Kepala Daerah (pojoksamber.com 29 Maret 2015), setidaknya dari dua tulisan ini saya ingin menyampaikan sikap tidak percaya saya terhadap para calon kepala daerah yang berslogan Membangun Metro atau menuju Metro Unggul, Metro Berdaya Saing Global, atau slogan-slogan lainnya yang ideal, padahal cara-cara yang ditampilkan jauh dari watak unggul dan membangun.

Prilaku para calon, memang secara utuh tidak bisa menggambarkan keseluruhan wajah kota, akan tetapi jika prilaku itu mewakili orang-orang pilihan di kota ini, bagaimana dengan yang tidak pilihan? Inilah yang berkaitan erat dengan apa yang sebenarnya ingin diungkapkan dalam tulisan ringkas ini. Prilaku para calon dan warga, hubungannya dengan level capaian sebagai kota yang telah sepuluh tahun menegaskan diri sebagai kota pendidikan dan telah menghabiskan anggaran bermilyar-milyar, tetapi justeru prilaku elit dan warganya tidak menunjukan identitas sebagai masyarakat terdidik.

Kok bisa? Bisa! Secara sederhana penilaian itu bisa didasarkan pada beberapa hal yang jamak diketahui publik, pertama, politik uang. Hampir seluruh pelosok Lampung mengetahui bahwa pasar pemilu yang tingkat transaksinya paling tinggi adalah di Kota Metro. Bahkan, hasil survei yang baru dirilis oleh Sai Wawai Institute (pojoksamber.com, 15/5/2015), sebanyak 90% warga Metro digerakkan oleh uang (money politic) atau janji politik, bukan karena pilihan rasional atau gagasan dan visi-misi calon.

Beberapa bakal calon kepala daerah bahkan di beberapa tempat telah memulai praktek transaksi politik tersebut, dengan dalih uang transport, uang lelah, dan partai-partai juga mengemasnya dalam bahasa lain seperti mahar politik, ongkos politik dan istilah-istilah lainnya, yang semuanya mengacu pada praktek politik uang yang disamarkan.

Fakta tersebut, baik yang dilakukan oleh calon maupun warga menunjukkan indikator utama gagalnya capaian visi kota pendidikan, karena semestinya tingginya pendidikan seseorang akan semakin membuat ia lebih rasional menentukan pilihan secara bebas dan tanpa intervensi.

Kedua, krisis kepemimpinan. Beberapa aktifis menunjukkan sikap apriori terhadap beberapa calon yang muncul karena masing-masing calon nir-gagasan dan kebaruan. Di samping cara mempengaruhi pemilih yang dianggap kuno dan tradisional bahkan cenderung membodohi warga kota dengan praktek politik uang dan janji-janji gombal seperti akan berusaha menarik dana pusat ke daerah, juga miskinnya pemahaman para calon tentang masalah dan kebutuhan dasar warga, sehingga visi-misi disodorkan bukanlah hal substansi menjadi kebutuhan kota dan warga kota.

Di perparah lagi, munculnya beberapa calon kepala daerah impor, seolah ingin menegaskan kepada setiap warga kota, bahwa Kota Metro memang sedang mengalami krisis kepemimpinan akut. Bukan anti atas para calon kepala daerah dari daerah lain yang berbondong-bondong ingin mencalonkan diri sebagai kepala daerah di Kota Metro, tulisan ini sebenarnya hendak mengingatkan bahwa pada level ini, capaian sebagai kota pendidikan telah gagal, sehinga dibutuhkan naturalisasi  calon kepala daerah.

Banyak indikator-indikator lain, yang secara kasat mata hadir di hadapan kita, bahwa Metro sebenarnya masih sebatas bermimpi tentang kota pendidikan, yang warganya adalah warga pembelajar, hal itu tampak dari tertib berlalu lintas, tertib membuang sampah, tertib antri di pom bensin, dan laku-laku lain yang jauh dari identitas sebagai “pendidikan”.

Di akhir tulisan ini, saya ingin menutupnya dengan peringatan Mahatma Ghandi tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu education without character, jangan sampai kita memahatkan cita-cita pendidikan tanpa identitas dan karakter yang jelas.

Tabik.



0 Comments:

Posting Komentar