Diolah dari berbagai sumber


Sejak kecil, saya sangat akrab dengan petuah-petuah bijak orang tua: “Jangan dibuang, nanti makanannya menangis”, “habiskan. Remah-remah makanan itu menangis saat kamu perlakukan tak adil!” atau nasihat religius: “Kita tak pernah tahu, di butir mana berkah dan keutamaan makanan, maka jangan pernah sisakan!”

 

Tak hanya kata-kata, saya seringkali memergoki Emak memungut butir-butir nasi yang tercecer di tempat makan, mengumpulkannya dalam sebuah piring lalu memberikannya ke ayam-ayam peliharaan kami. Tak jarang juga sisa nasi yang basi dicucinya, kemudian dimakan atau dijemur hingga kering, lantas dibumbui dan digoreng, disimpan dalam toples dan menjadi cemilan.

 

Sisa makanan seperti tulang ikan, biasanya dipisahkan untuk makanan kucing. Sedangkan sisa-sisa makanan lainnya yang tak bisa lagi dikonsumsi, akan dibuang Emak dalam lubang. Ada beberapa lubang kecil yang memang telah disiapkan untuk pembuangan sisa makanan, ditata jaraknya dari pohon-pohon yang ditanam di kebun belakang rumah kami.

 

Seiring waktu, tuntutan untuk terus belajar dan melanjutkan pendidikan mengharuskan saya untuk meninggalkan kampung dan menjalani kehidupan di kota. Bagi saya yang tinggal dan tumbuh besar di kampung, kota adalah simbol peradaban yang maju dan modern. Masyarakat kota adalah masyarakat yang bukan hanya secara statistik lebih terpelajar, melek aksara dan angka melainkan juga melek teknologi informasi dan lebih akrab dengan pengetahuan.

 

Dulu, pikiran tersebut begitu dominan. Saya menganggao orang kota adalah refresentasi orang terpelajar, yang sangat memahami dasar tindakannya, tidak seperti kami orang-orang kampung yang mendasari aktivitas pada kebiasaan kebiasaan (tradisi) secara turun-temurun, mengikuti mitos 'pamali', seperti ajaran Emak untuk tidak membuang sisa makanan, agar makanan tak membenci kita, jangan merusak hutan atau tanaman agar penunggunya tak marah. Begitulah, ajaran moral yang diwariskan, yang dianggap oleh mereka yang 'berpengatahuan lebih banyak berbau takhayul.

 

Namun, lama-lama anggapan itu harus kembali saya pertimbangkan. Peradaban maju sebagai ciri khas kota, ternyata justru adalah bagian dari mitos. Banyak orang-orang justru berjarak dengan adab, mereka lebih sering menampilkan paradoks. Di kota, banyak orang yang susah mencari makan hingga mengorek-orek tempat sampah, tetapi di sekitarnya banyak orang dengan enteng dan tak peduli membuang makanan. Orang kota takut dengan banjir, tapi mereka lebih suka menanam beton daripada pohon, suka membuang sampah sembarangan yang bisa mengakibatkan saluran air tersumbat.


***


Selama di kota, ajaran-ajaran Emak tertimbun dalam tumpukan aktivitas dan kebiasaan warga kota.

 

Kehidupan di kota pelan-pelan membuat ajaran dari Emak aus dalam ingatan. Saya tak pernah lagi peduli pada sebutir nasi yang tersisa di piring, atau tulang ikan yang menumpuk. Semuanya saya pasrahkan pada pemilik warung atau karyawan rumah makan yang membersihkannya. Saya pun tak pernah mau ambil pusing, apakah sisa-sisa makanan itu berakhir di tong sampah atau mengalir bersama air bekas cucian, dan akhirnya menumpuk di dalam got-got sekitar warung atau rumah makan itu.

 

Sampah Makanan


Berdasarkan data Badan Perwakilan Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agricultur Organization/FAO) sampah makanan di Indonesia mencapai 13 juta ton pertahun, yang jika dikonversi setara dengan 27 triliun rupiah. Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2017, sampah makanan bisa setara dengan konsumsi yang bisa dinikmati oleh 28 juta penduduk Indonesia.

 

Data tersebut adalah sebuah ironi di tengah banyaknya jumlah penduduk yang kesulitan untuk mendapatkan makanan, yang menurut data FAO berada di angka 19,4 juta atau 20% dari jumlah 262 juta penduduk Indonesia. Bahkan, di sekitar kita kerap ada pemandangan yang menyayat hati, beberapa pemulung, tunawisma atau orang-orang 'kekurangan’ mengorek tempat sampah, mencari sisa-sisa makanan, lalu tanpa rasa jijik memakannya.

 

Mulai dari Diri Sendiri




Data kesenjangan antara perilaku masyarakat yang membuang-buang sisa makanan dan mereka yang hidup serba kekurangan, menjadi fakta bahwa sebenarnya kita berjarak dari keadaban yang menjadi karakter utama peradaban maju. Kontrarealitas antara banyaknya sampah makanan dan tingginya angka kelaparan mengharuskan memberi perhatian dan catatan serius bahwa bukan semata, sebagai manusia kita harus merawat nilai-nilai kemanusiaan dengan menunjukkan empati terhadap sesama, melainkan karena kita juga harus beradab dalam merawat alam sekitar kita.

 

Daya tampung tempat pembuangan akhir (TPA) yang semakin hari semakin kewalahan menampung sampah. Selain itu, sampah makanan yang tercampur dengan sampah non-oganik yang tidak bisa hancur atau membusuk, seperti plastik akan menghasilkan leachate atau air lindi, yaitu cairan beracun yang sangat berbahaya karena mengandung konsentrasi senyawa organik dan non-organik.

 

Jadi, selain kehilangan nilai-nilai kemanusiaan karena tidak memiliki empati atas nasib manusia yang lain, sampah sisa makanan juga menghadirkan ancaman serius bagi keberlangsungan kehidupan. Untuk itu, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk gaya hidup minim sampah makanan, dan bisa dimulai dari mendisiplinkan diri sendiri.

 

Pertama, ambil makanan sesuai porsi. Untuk kasus ini berlaku prinsip lebih baik kurang dan bisa nambah daripada lebih yang mengakibatkan makanan sisa dan dibuang. Bijak menentukan porsi makanan ini, berlaku baik pada saat di rumah atau saat makan di luar (warung/rumah makan) atau di rumah.

 

Kedua, bungkus makanan tersisa. Jika terlanjur makanan tersebut sisa upayakanlah untuk membungkus makanan tersebut dan membawanya pulang, termasuk juga membungkus tulang atau sampah dari lauk (ikan/daging). Ketiga, berikan pada hewan peliharaan. Sisa makanan tersebut bisa diberikan  kepada hewan peliharaan (ayam atau kucing).

 

Keempat, belajar mendaur ulang. Banyak tutorial tentang daur ulang sampah makanan di internet. Kita bisa belajar untuk mengubah sampah makanan menjadi pupuk, yang bisa menghasilkan berkah untuk membuat subur makanan atau bahkan jika ditekuni bisa menghasilkan uang yang lumayan.

 

Kelima, membuat galian kecil. Jika memiliki lahan yang lumayan luas, seperti kebun, buatlah galian kecil untuk menanam sisa makanan seperti tulang atau bekas-bekas sayur yang tidak mungkin lagi bisa dimakan, dengan mengatur jarak ideal dengan pohon-pohon yang ditanam. Lama-lama sisa makanan yang membusuk tersebut bisa menjadi pupuk yang baik untuk perkembangan pohon-pohon.

 

Keenam, terapkan denda. Menghukum diri sendiri karena melanggar komitmen untuk tidak menyisakan sampah makanan bisa menjadi pilihan terakhir. Hukum tersebut bisa berupa puasa beberapa hari, atau memberi makan orang-orang yang tidak mampu selama beberapa hari juga.

 

Mengingat sampah makanan sangat berbahaya dan menjadi penyumbang musibah bagi masa depan kota, kita memiliki tanggungjawab untuk terus menerus menyosialisasikan bahayanya agar bebas sampah makanan. Termasuk mendorong pemerintah, pihak rumah makan (warung/restoran) untuk menerapkan sanksi bagi konsumen yang masih menyisakan makanannya, termasuk mengatur/membuat kebijakan yang mendisiplinkan setiap rumah makan untuk selalu melakukan pemilihan dan pemilihan berbagai jenis sampah (organik, an-organik, dan non-organik).

 

Akhirul Kalam

Ramadhan mestinya menjadi medium perilaku hemat, tetapi rasa lapar di siang hari seringkali membuat orang ingin membeli semua makanan (lapar mata), yang mengakibatkan bukan hanya menjadikan kita lebih boros melainkan juga berkontribusi terhadap peningkatan jumlah sampah makanan selama bulan Ramadhan. Maka, mengembalikan spirit Ramadhan sebagai bulan yang mengajarkan untuk membangun empati, peduli sosial dan hemat, harus menjadi spirit Ramadhan kali ini dan Ramadhan seterusnya, sehingga kita tak terus menerus jatuh dalam kubangan kesalahan yang sama: kemubaziran dan sampah makanan. (*)




Saat menjamu Liverpool di leg pertama perempat final Liga Champions 2020/2021, Rabu (7/4/2021) lalu, psywar sudah mulai digaungkan kubu Barcelona. Sebuah bentangan spanduk raksasa bertuliskan "Can't wait for El Clasico" terpampang mencolok di sekitar pelataran Stadion Alfredo di Stefano, Madrid. Perang urat syaraf yang ditanggapi dingin oleh para pasukan putih, karena memang Real Madrid sedang fokus pada pertandingan, sedangkan Barcelona telah lebih awal tersingkir di ajang kompetisi klub terbaik dunia tersebut.


Rivalitas akbar di dunia sepakbola bertajuk El Clasico atau Derby Spanyol memang telah lama terbangun dan berlangsung panas, sejak kedua tim bertemu pertama kali di semifinal Piala Spanyol pada 13 Mei 1902. 


Pertemuan El Clasico dini hari nanti (Ahad, 11/4/2021) merupakan pertemuan ke-278 (kompetisi 245 dan eksibisi 33 kali pertemuan) tersebut telah menyajikan 101 kemenangan buat Real Madrid dan 115 kemenangan buat Barcelona, sedangkan sisanya, 62 pertemuan berakhir imbang. Namun, jika dihitung dalam laga resmi (kompetisi), Real Madrid lebih menang banyak dengan keunggulan satu angka, yaitu 97 kemenangan, sedangkan Barcelona meraih 96 kemenangan, dan 52 sisanya berakhir imbang.


Demikianlah fakta dan rekor yang tercipta selama El Clasico tersaji, belum lagi fakta tentang skor tertinggi 11-1 untuk kemenangan Real Madrid, seringkali melahirkan luka dan dendam bagi yang kalah. Untuk itulah tulisan ini berkepentingan untuk mengurai sejarah rivalitas El Clasico.


Persoalan sejarah yang subyektif. Sejarah yang multitafsir, mempersilakan pembaca untuk membaca berdasarkan perspektif yang disukai. Walaupun harus diakui jujur, buku sejarah lebih banyak menulis tentang Barcelona daripada Real Madrid, karena Real Madrid telanjur dinilai sebagai “anak kekuasaan” sedangkan Barcelona diposisikan sebagai bagian yang teraniaya, dipinggirkan dan untuk itu layak mendapatkan perhatian dan pembelaan, sehingga apapun kekalahan yang menimpa Barcelona selalu dikaitkan dengan peran dan intervensi kekuasaan. 


Untuk itu, pesan penting dalam tulisan ini hanyalalah sebagai pengingat, bahwa tak boleh menanggalkan cinta dan rasa kasih untuk melahirkan keadilan menilai.


Rivalitas El Clasico adalah persaingan yang telah mendarah daging. Suatu pertandingan yang senantiasa ditunggu para pendukung kedua klub, atau pecinta sepak bola di berbagai belahan dunia. Seperti ada kewajiban bagi kita (para fans) untuk menonton pertarungan kedua tim itu, yang penuh dengan gengsi. Kehormatan yang jauh lebih tinggi dari sekadar tiga poin nilai, atau hanya sekadar uang.


Real Madrid dan Barcelona merupakan dua entitas terbesar di negara Spanyol. Jika membandingkan kota, kedua kota tersebut merupakan kota terbesar di Spanyol. Jika berbicara klub sepak bola, keduanya merupakan dua klub besar, paling sukses, paling kaya, dan memiliki basis fans paling banyak di Spanyol. Jumlah itu belum termasuk fans dari luar Spanyol.


Kedua stadion mereka, yakni Santiago Bernabeu dan Nou Camp, sudah seperti rumah ibadah bagi kedua fans. Bagi fans kedua klub, masing-masing stadion mereka dianggap sangat suci, dan seakan, haram hukumnya melihat kesebelasan kesayangan mereka kalah di kandang sendiri, apalagi dari rival abadi.


Rivalitas panjang kedua klub ini, bermula dari partai-partai politik, yang menggunakan sepak bola sebagai salah satu cara untuk meraih massa. Hal itu lalu berubah menjadi pertarungan budaya antarkaum Castille (kerajaan), yang diwakili Real Madrid, dan kaum Cataluna yang diwakili Barcelona. Sehingga, orisinalitas apapun yang dimainkan di tengah lapangan, akan selalu memiliki penilaian politis.


Pemicu lain dari rivalitas dua klub raksasa Spanyol ini adalah perebutan pemain. Mulai dari, Michael Laudrup yang pindah ke Real Madrid pada 1994 dengan status free transfer (transfer bebas), hingga yang paling menghebohkan, perpindahan kedua idola masing-masing tim pada saat itu. Luis Enrique tiba-tiba pindah dari Real Madrid ke Barcelona. Real Madrid “membalas” dengan “membajak” Luis Figo dari Barcelona. Perpindahan Luis Figo ke Madrid makin memanaskan suhu persaingan kedua tim. Rasa benci fans Barcelona ditunjukkan kepada Figo dengan melemparkan kepala anak babi saat duel El Clasico di semi final Liga Champions tahun 2002.


Di era modern, rivalitas ini berubah menjadi sebuah pertaruhan ideologi sepak bola. Kedua klub mengklaim masing-masing mereka lebih baik dari rivalnya. Satu hal yang menarik, El Clasico selalu dihubungkan dengan sejarah perseteruan ideologi dan politik. 


Kekalahan Barcelona 11-1 oleh Real Madrid pada 1943. Memori itu tentu tidak pernah nyaman untuk diingat kubu Barcelona. Pertandingan itu kemudian menjadi catatan paling penting dalam sejarah El Clasico. Kubu Madrid akan sontak meneriakkan Hala Madrid jika mengungkit pertandingan tersebut. Sedangkan, Barcelonistas punya alasan untuk menampik sejarah itu.


Cerita yang berkembang dan diamini para pendukung Barcelona, kekalahan itu terjadi karena ada campur tangan dari rezim diktator Jenderal Fransesco Franco, yang berkuasa di Spanyol saat itu. Ia mengharamkan penggunaan bahasa dan bendera Catalan. Franco sendiri dikenal sebagai pengagum Real Madrid.


Versi itu tentu berbeda dengan yang diyakini Madridistas. Rumor campur tangan Jenderal Franco, adalah omong kosong kubu Barca, yang sulit menelan kenyataan pahit itu. Kemenangan 11-1, murni karena kehebatan Madrid. Tidak ada satu bukti pun yang bisa menguatkan tuduhan bahwa Jenderal Franco mengintimidasi pemain Barca sebelum bertanding. Bahkan konon, pemain Barca menepis sendiri rumor itu.


Lagipula, Jenderal Franco ikut membiayai operasionalisasi Camp Nou. Untuk hal itu, Barcelona memberi penghargaan dua medali kepada Franco. Madrid juga bukan tim Franco, seperti yang digembar-gemborkan Barcelonistas ketika itu. Karena, sang jenderal juga memfavoritkan tim selain Real Madrid, yakni Atletico dan Barcelona.


Anggapan Rezim Franco yang diskriminatif terhadap masyarakat Catalan, yang pada gilirannya melahirkan perang sipil Spanyol, sering dianggap sebagai biang rivalitas dan terjadi antara tahun 1936-1939, adalah keliru. Kesalahan anggapan itu juga diperkuat dengan data yang menyajikan fakta terbalik. Bahwa sesungguhnya, Catalonia versus Castilia, atau Real Madrid dan Barcelona lebih sering berada di satu pihak.


Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, misalnya, Jendral Franco justru sempat memilih presiden untuk kedua Klub. Data lain menegaskan, dua bersaudara berdarah Catalan (Carlos Padros dan Juan Padros) adalah pendiri Real Madrid yang tinggal di Madrid. Mereka punya toko pakaian yang kemudian menjadi tempat berdirinya Madrid FC tahun 1902, tiga tahun setelah berdirinya Barcelona FC pada tahun 1899, yang didirikan oleh Joan Gamper.


Lebih jauh, dua dari Presiden Real Madrid selama perang sipil beraliran anti-Franco. Rafael Sanchez Guerra adalah seorang Republikan, dan Kolonel Antonio Ortega seorang penganut aliran komunis yang fanatik pada Uni Soviet. Fakta lain, Barcelona adalah klub yang pernah dianggap sebagai anti-Spanyol. Namun, Barca justru penyuplai pemain terbanyak Timnas Spanyol hingga sekarang. 


Sejak 1939 hingga kedatangan Alfredo Di Stefano di Real Madrid tahun 1953, yang merupakan periode paling represif selama rezim Franco, Real Madrid gagal memenangi liga. Sementara, Barcelona memenangkan lima gelar. Jadi tidaklah tepat kalau Barca diintimidasi sehingga gagal menjadi juara.


Kini, rivalitas itu terus berlanjut. Bahkan, saya yang jauh dari Spanyol merasakan hawa rivalitas itu, terlebih menjelang duel El Clasico, segala senjata untuk menyerang telah disiapkan tatkala tim kesayangan menang, dan tameng berlindung dari serangan bully-an jika kalah.


Meski kondisinya saat ini, mereka bukan sama-sama sebagai pemuncak klasemen. Laga El Clasico tak pernah menyurutkan semangat dan optimisme untuk menjadi calon juara di akhir kompetisi.


Sejarah kehebatan mega duel dan kedigdayaan dari para pemain selalu memunculkan cerita. Dan bukan sekadar dongeng atau isapan jempol belaka. Bagi para fans, mereka bukanlah legenda kata-kata, tetapi sebuah karya yang nyata.


Dari kubu Barcelona, kondisi saat ini sedang tersiram bara panas. Mereka akan berusaha mengendapkan dukacita mendalamnya setelah tersingkir di Liga Champions dengan cara memenangkan laga ini. Sedangkan dari Madridista, luka menganga akibat tersingkir begitu cepat diajang CDR dan Super Copa, berusaha dinetralisir dengan menjuarai duel klasik ini. Lengkap sudah, laga ini akan sarat dengan dendam kesumat. 


Laga ini juga seolah menceritakan bagaimana berisiknya suara fans dari kedua kubu, bagaimana kondisi yang damai menjadi kacau balau dan bagaimana seorang pemain dari kedua tim menemukan siapa dirinya. (*)


 


Menurut Jonathan Haidt dalam buku The Righteous Mind, siapa pun yang menghargai kebenaran harus berhenti memuja nalar.  Penalaran berevolusi bukan untuk membantu kita menemukan kebenaran, melainkan untuk membantu kita terlibat dalam perdebatan, upaya membujuk, dan manipulasi dalam konteks diskusi dengan orang lain."

 

Pernyataan Haidt tersebut seolah menjadi muara dari buku Batas Nalar karya Donald B. Calne ini. Calne menggumamkan kegelisahannya di halaman awal buku ini: "Jika kita berpikir banyak, apakah kita akan bertindak lebih baik?" Sebuah pertanyaan bernada menggugat dan mempertegas bahwa nalar tidak dapat menentukan arah dan tujuan manusia.

 

Kegelisahan Donald B. Calne, sebagai seorang neurolog yang sering menjumpai perilaku disorders pada lingkungan sosialnya, memacunya untuk terus-menerus mencari jawaban tentang nalar. Sesuai dengan profesinya, sebagai Direktur Neurodegenerative Disorder Centre, Calne mencari jawaban ini melalui pengamatan terhadap neuron dan otak manusia, dalam perspektif teoretik biologi evolusioner.

 

Belakangan ini, kita terlalu sering menyaksikan betapa banyak orang pintar dan cerdas yang goncang kejiwaannya, narasi-narasi yang disemburkan di media sosial, terlebih soal kekuasaan dan dukungan politik, seakan meneguhkan pendapat Calne, bahwa nalar adalah perkakas biologis yang berkembang secara evolusioner, yang semestinya bertugas menjawab pertanyaan 'bagaimana' bukan 'mengapa'. Nalar merupakan fasilitator, bukan inisiator.

 

Nalar kita gunakan untuk mendapatkan apa yang kita mau, bukan untuk menentukan apa yang kita mau.  Akhirnya. nalar tak menjamin kita lebih beradab dan baik.

 

Berbeda dengan moral dan nurani yang bertautan dengan hal-hal yang seharusnya dan diinginkan, terpaut dengan emosi dan perintah budaya. Nurani dan emosi mendorong kita karena memuaskannya akan membawa kebahagiaan, dan mengabaikannya akan menimbulkan kekecewaan. Kebudayaan dapat mengaitkan tujuan-tujuan dengan nurani dan emosi, dan keduanya memunculkan motivasi. Nalar jauh dari gelora hasrat manusia, sedangkan nurani berkait erat dengan hasrat, kepuasan dan kebahagiaan.

 

Di buku ini, Calne menunjuk bagaimana fakta historis tampilnya era Enlightment di Eropa pada abad ke-17 dan ke-18, di saat yang tak terpaut jauh dari era kebangkitan nalar tersebut, abad ke-19, justru para cendekiawan Jerman yang paling awal memeluk ideologi Nazi, Wagner dan Nietzsche adalah dari sekian banyak perintis itu, termasuk tokoh perguruan tinggi, golongan terdidik, ahli hukum dan dokter.

 

Kemajuan ini diiringi dengan perubahan sosial-politik di Eropa, di mana nalar dan rasionalitas mendapat tempat yang makin tinggi dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, kepercayaan dan harapan semakin meningkat bahwa sains dan nalar mampu melenyapkan kemiskinan, kebodohan, dan kekejaman di dunia.

 

Namun, Calne menilai bahwa harapan yang digantungkan pada nalar terlalu berlebihan. Meletusnya perang dunia dan krisis ekonomi berulang-ulang menjadi bukti keterbatasan nalar dalam menjalankan peranan sebagai ’dewa penyelamat.’ Gerakan menjauhi nalar secara berangsur mulai tampil kembali ke panggung sejarah. Bandul sejarah kembali ke titik yang berlawanan. Bagi Calne, keterbatasan bukan hanya pada sains, tapi juga pada dunia akademis secara umum.

 

”Bahwa kekuatan nalar betul-betul merupakan kemampuan manusia yang nyata, jelas, dan tidak-boleh-tidak bekerja dalam hampir semua aspek kehidupannya. Tapi nalar tidak bisa memberi atau mengendalikan tujuan-tujuan yang terkait dengannya.” Tulis Calne

 

Sejalan dengan itu, YN. Harari juga menulis bahwa manusia dengan nalar yang dimilikinya memang tak pernah lelah memamerkan keistimewaan-keistimewaannya, meneguhkan superioritasnya dari makhluk-makhluk lain, dan dengan congkak mendaulat diri sebagai homo sapiens (manusia bijak), setelah sebelumnya mereka berevolusi  dari homo rudolfensis (manusia dari Danau Rudolf), homo ergaster (manusia bekerja) dan mengasuh spesies-spesies baru lainnya.

 

Menurut Harari, manusia lupa, bahwa dulunya, mereka hanyalah spesies yang bersembunyi di semak-belukar, menunggu makanan sisa dari buruan serigala, sialnya begitu hendak keluar mengambil sisa-sisa tersebut, segerombolan anjing menghentikannya, mereka pun harus kembali bersabar, menunggu sisa-sisa anjing, dan akhirnya harus rela menerima, memakan sum-sum yang ada di dalam tulang yang tersisa.

 

Nalar, dalam catatan panjang sejarah memang lebih sering tampil sebagai alat untuk menjinakkan, memperluas kekuasaan, menjajah, menciptakan senjata untuk memusnahkan, meneguhkan prestise. Nalar selalu haus pengakuan dan kekuasaan, tak pernah berhasil mengantar manusia kepada kebahagiaan hakiki.

 

Maka, apa yang tersurat dalam perjalanan teologis Ibrahim sebagai kekasih Tuhan dan nabi yang dinilai paling rasional (sejarahnya tak mampu didebat oleh Namrud), pada proses akhir perjalanan pencariannya tentang Tuhan, ia pun harus mengakui keterbatasan nalarnya. Menjadi iktibar bahwa tiada guna mengagulkan dan mengagungkan nalar secara berlebihan, terlebih secara jumawa mengatakan: semua masalah selesai dengan nalar. (*)



____________


Data Buku

Judul:   Batas Nalar: Rasionalitas Dan Perilaku Manusia | Penulis: Donald B. Calne | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia | Jumlah Hala,am: xvi + 458 hlm. | ISBN: 9799100216