Mengapa orang-orang baik terpecah karena politik dan agama?

Pertanyaan sekaligus pernyataan di atas adalah judul kecil dari terjemahan buku karya Jonathan Haidt, The Righteous Mind. 


Pertanyaan tersebut menjadi relevan untuk diajukan di tengah laku politisi yang terus berusaha mencabik nilai kemanusiaan. Politik tak hanya sukses membelah kita dalam kelompok-kelompok kecil, tetapi juga berhasil mendorong kita menanggalkan persaudaraan. Kita berubah menjadi pengintai dan pemangsa yang selalu siap menghabismusnahkan kelompok lain yang berbeda dengan kita.


Menurut Haidt, perasan lebih tinggi memungkinkan kita menjadi sangat altruistik. Namun, altruisme itu kebanyakan diarahkan kepada anggota kelompok kita sendiri. Orang-orang biasanya bergabung dalam tim-tim politik (pun agama) yang memiliki kesamaan narasi moral, dan menjadi buta begitu mereka menerima narasi moral lainnya yang berbeda (h. xiii). Ibarat pemegang martil -- meminjam istilah Mark Twain, politik mengubah pandangan kita sehingga segala sesuatu di luar diri (kelompok) kita tampak seperti paku.


Padahal, kemanusiaan semestinya menjadi pondasi politik, sehingga kontestasi di dalamnya dianggap sebagai kompetisi kebajikan (fastabiqul khairat). Siapa pun pesertanya memiliki niatan suci untuk mewujudkan kebaikan sesama. Bahkan, Aristoteles yang mengenalkan istilah zoon politicon atau makhluk sosial menyerukan bahwa benar secara kodrati manusia adalah makhluk berpolitik, di mana perwujudan diri manusia hanya mungkin dilakukan dalam polis atau komunitas politik, tetapi manusia tak boleh mengabaikan etika dan martabat dalam berpolitik untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.


Untuk itu, tujuan (ber)negara adalah merealisasikan kebaikan tertinggi dan hidup bahagia untuk semua warga. Politik dibangun ketika manusia berbicara, berkomunikasi, dan membangun wacana. Komunikasi mengandaikan faktum pluralitas manusia. Jika manusia semuanya seragam, tidak terjadi dialog dan hanya ada satu manusia di puncak piramida kekuasaan dan yang lain tidak lebih dari massa yang tidak tahu apa-apa, sebagaimana ditegaskan Hannah Arendt, maka di sana tidak ada politik.


Di buku ini Haidt dengan masygul kemudian mempertanyakan mengapa orang-orang baik terpecah belah karena politik dan agama? Mengapa masyarakat makin terpolarisasi dan saling curiga, bukannya berusaha bekerja sama? Mengapa ada pandangan moral yang berbeda? Ia dengan gusar mengingatkan  untuk lebih berempati dan membuka hati (bukan hanya pikiran), jika ingin berpolitik dengan lebih sehat. Bagi Haidt siapa pun yang menghargai kebenaran harus berhenti memuja nalar.  Penalaran berevolusi bukan untuk membantu kita menemukan kebenaran, melainkan untuk membantu kita terlibat dalam perdebatan, upaya membujuk, dan manipulasi dalam konteks diskusi dengan orang lain." (h. 118 - 119).


Menurutnya, delusi rasionalis (rasionalist delusion/waham rasionalis) menjadi narasi utama hampir seluruh perjalanan politik, juga menjadi landasan peradaban modern yang kita hidupi. Haidt membongkar moralitas semu yang ditampilkan para aktor politik lewat pencitraan. (h. 122). Haidt menuding bahwa di balik setiap tindakan altruisme, heroisme, dan kepantasan manusia adalah keegoisan dan kebodohan, homo sapiens sebenarnya adalah homo economicus, baginya nalar bekerja untuk kepentingan pribadi. Orang-orang melakukan apa pun yang membuat mereka mendapatkan keuntungan terbesar dengan biaya paling kecil. (h. 170).


Dalam The Righteous Mind ini, Jonathan Haidt memaparkan secara umum enam pondasi moral utama yang menurutnya menjadi landasan nilai-nilai moral bagi berbagai kelompok dalam masyarakat seperti yang diterapkan oleh dua partai besar di Amerika Serikat, Republik dan Demokrat, 
yaitu care (kepedulian), fairness (keadilan), liberty (kebebasan), loyalty (kesetiaan), authority (kepatuhan pada otoritas), dan sanctity (kesucian).


Namun, narasi politik dalam hampir setiap episode sejarah selalu saja diwarnai oleh intrik-intrik yang  bercita rasa pragmatis, sehingga politik terlanjur identik dengan kotor, kejam, buruk dan bulus. 


Laku politik inilah yang memunculkan apriori. Maka, membaca The Righteous Mind setidaknya bisa mendesakkan laku politik yang lebih beradab dan bermartabat, yang merujuk kepada moral dan nilai-nilai universal. 


Moralitas politik substansinya adalah humanis, liberasi dan transendensi. Menurut Jonathan Haidt orang-orang terpecah oleh politik bukan karena sebagian orang baik dan sebagian yang lain jahat, melainkan karena akal yang dirancang berbudi hanya dalam kelompok. Penalaran strategis menjadikan kita sulit tersambung dengan orang-orang yang hidup dalam matriks lain, yang acap kali dibangun di atas konfigurasi landasan moral yang berbeda, bukan landasan moral dan nilai-nilai universal.


Mestinya politisi yang mencitakan kesejahteraan rakyat dan keadilan bersama bisa menemukan common sense (kalimatun sawa') sebagai landasan etis, mempromosikan keteladanan dengan membuang arogansi, ego politik, dan kecurigaan yang mempersempit ruang-ruang dialog sehingga jalan untuk merajut persatuan sebagai modal melambungkan bangsa ini ke capaian prestasi mondial kian mudah.


Cita-cita mulia para elit politik atau calon yang disusun dalam narasi visi, misi dan program kerja yang diklaim 'paling baik' adalah alasan utama untuk menampilkan sikap moral bermartabat. Para elite politik punya kewajiban moral untuk menciptakan sistem dan kondisi politik yang berkeadaban, bersikap altruistik dalam memperjuangkan nilai-nilai kebaikan bersama, melebihi dari nilai kebaikan sekelompok orang. Suatu aksi politik yang secara esensial menjauhkan relasi percakapan bernegara dari berbagai benih konflik yang berlarut-larut dan tidak konstruktif.


Berbeda halnya, jika narasi ideal tersebut adalah kebohongan belaka, atau tak lebih dari sekadar citra, egosentris dan narsisisme berlebihan, maka seperti ungkapan Arnold J Toynbee, peradaban-peradaban mati karena 'bunuh diri', bukan karena 'dibunuh' dari luar (civilizations die from suicide, not by murder). Para elit politiklah yang membunuh dan memakamkan peradaban dan moralnya sendiri, sehingga tak perlu ragu untuk menudingnya biadab!


Begitulah buku ini, ia menyebut politik yang hanya mengandalkan nalar, akan cenderung menanggalkan moral (keadaban) sehingga sukses memecah belah. 


Dan, bila dipaksakan mencari kekurangan dari buku setebal xv+464 halaman ini, barangkali satu-satunya kekurangan adalah kegagalannya memotret bahwa manusia atau kemanusiaan sesungguhnya adalah keutuhan nalar dan naluri, nalar  harusnya dipahami sebagai dua hal yang tak terpisah seperti dua sisi mati uang, tak bisa saling meninggalkan dan menanggalkan. Kemanusiaan harus mempekerjakan nalar dan naluri (istilah Haidt: firasat) secara bersamaan. Bagi, manusia yang meninggalkan atau menanggalkan salah satunya, tentu tak memiliki kepantasan disebut manusia yang utuh. (*)






____
Data Buku
Judul: The Righteous Mind | Penulis: Jonathan Haidt | Penerbit: Gramedia Pustaka | Tahun Terbit: November 2020 | Jumlah Halaman: xv+464


Memburu Muhammad

Memburu Muhammad adalah judul cerita ketiga belas yang dipilih sebagai judul buku kumpulan cerita karya Feby Indirani ini. Di bagian ini, dalam ceritanya Feby menghidupkan kembali sosok Abu Jahal yang sedang berburu Muhammad, ia mendatangi kelurahan dan menanyakan kepada petugas tentang keberadaan Muhammad.


Abu Jahal menyandera seorang ibu petugas kelurahan, sebelum akhirnya Ikrimah –lengkapnya Muhammad Ikrimah – menyediakan diri untuk membantu Abu Jahal menelusuri jutaan data dan nama Muhammad. Namun, sayangnya tak pernah ada (tak ditemukan) lagi sosok Muhammad, bahkan yang sedikit mirip pun.


“Carikan aku Muhammad yang benar!”


“Kau buat daftar tersangka Muhammad yang paling mungkin, temukan lokasinya. Lalu, aku akan menghampiri mereka!”


Begitulah Abu Jahal memerintah Ikrimah.


Sederet nama disebut: Muhammad Jusuf Kalla, Goenawan Mohamad, Muhammad Nazaruddin. Namun, tak satu pun yang cocok!


“Itu sungguh aneh! Lalu, untuk apa kalian semua bernama Muhammad kalau mirip pun tidak? Cuma jadi pencuri, politisi haus kuasa, atau semata orang tak berguna?”


Feby membangun alusi-alusi dalam cerita ini. Banyak orang yang mengagulkan nama dan tampilan, tapi tak berbanding sesuai dengan tutur dan lakunya.
Hampir keseluruhan cerita dalam buku Memburu Muhammad ini memotret kehidupan nyata di sekitar kita. Imajinatif, meledek sekaligus mengajak kita merenung.


Di bagian awal, Feby telah membuka dan memulai ceritanya dengan lakon yang akrab dengan kehidupan di sekitar kita, kebiasaan menggunjing dan membicarakan aib dan dosa orang lain. Secara apik, sindirian itu disusun dalam kisah Annisa dan Ihsan, dua sahabat kecil yang resah, jijik dan mual dengan kondisi sekitarnya.  Setiap hari ‘dua anak kecil’ ini menyaksikan kedua orang tua mereka menyantap bagian-bagian tubuh orang yang sudah meninggal (bangkai), bukan sekadar sebagai menu makanan utama di meja makan tetapi juga sebagai ‘cemilan’ menjelang tidur.


Tak hanya kedua orang tua mereka, setiap kali keduanya bertemu orang dewasa, di angkot, sekolah, pasar, bau khas seperti daging busuk yang terselip di gigi atau kuku tiba-tiba meruap dari mulut orang-orang dewasa itu. Bau amis yang nyinyir, meski terkadang tertutupi oleh harum pasta gigi, parfum atau aroma pengharum lainnya. Semakin banyak orang dewasa berkumpul, semakin kuat pula aroma busuk itu tercium.


Dalam cerita ini, Feby jelas sedang menyindir kebiasaan bergunjing, membicarakan keburukan orang lain yang disebut oleh kitab suci sama dengan memakan bangkai saudara sendiri.


Sebagai pembaca, saya tak memiliki alasan untuk tidak merekomendasikan kumpulan cerita Memburu Muhammad ini untuk dibaca. Bagi saya, lewat imajinasinya, Feby Indirani sukses menggambarkan realitas kehidupan di Indonesia paling mutakhir. Sebuah negara yang kini dihuni oleh jutaan orang yang doyan merawat dengki, melestarikan ujub, riya' dan ghibah. Manusia-manusia yang menggemari bangkai saudaranya sendiri sebagai makanan.


Memburu Muhammad adalah narasi yang bercerita soal kepedihan, membaca buku ini menyeret kita untuk menafakuri gurat-gurat lukisan tentang Islam yang semakin sulit diterjemahkan, samar. Kiwari, yang lebih sering tampil adalah karnaval kesalehan yang gandrung bicara kesalahan orang lain, jago memukul ketimbang merangkul.


Lewat buku ini, Feby sukses bertakhta di atas imajinasinya –istilah Nadirsyah Hosen dalam Pengantar buku ini-. Feby mengoreksi segala laku keberagamaan dengan imajinasinya yang liar, tetapi menohok, tepat sasaran. Tak ada alasan untuk marah, sekali pun itu –sebagian orang menilai provokatif- dengan  judul dan cover buku ini, kecuali mereka memang sadar ingin berkelahi dengan imajinasi Feby Indirani.


Saat launching buku ini secara daring (24/11/2020) lalu, Feby yang menyebut karakter ceritanya sebagai Islamisme magis adaptasi dari istilah realisme magis, mengakui sedang menawarkan percakapan baru dan sudut pandang baru. Baginya, bahwa unsur magis yang dibawa ketika seseorang bicara tentang agama banyak hal yang tidak bisa diindera secara kasat mata, tapi ia percaya itu sangat nyata dan memengaruhi kehidupan fisikalnya. Dan, Buku Memburu Muhammad ini mendedahkan lebih jauh soal Islam yang dipercaya di Indonesia.


Pengakuan itu tentu tak berlebihan. Saat kita berusaha menelusuri alur cerita dalam buku ini, sudut pandang baru itu kerap terasa dalam setiap dialog, jenaka sekaligus serius, ada banyak pertanyaan dan pernyataan yang selama ini jarang disentuh, yang secara tidak sadar akan ‘menyeret’ kita untuk memotret banyak kejadian di sekitar kita. Bisa jadi, kita membaca buku ini, tetapi justru membayangkan ‘yang lain’.


Dan benar, imajinasi yang lebih liar itu baru dimulai ketika kita menutup halaman terakhir buku ini, kemudian melayang dengan serpihan imajinasi sendiri. Membelah imajinasi sebagai Abu Jahal yang terus berikhtiar menemukan Muhammad, atau sekadar mengaku-aku mewarisi keluhuran pekerti yang diteladankan Muhammad. 


Muhammad barangkali memang hanya menyisakan nama, ajaran-ajarannya hanya ditulis dalam lembar-lembar sejarah yang 'sulit' dibaca, sehingga banyak yang mengaku sebagai pengikutnya, justru lebih suka mengikuti 'imajinasi' sendiri.


Saya sendiri, lebih senang berimajinasi, Memburu Feby. (*)
 

Data Buku
Judul: Memburu Muhammad | Penulis: Feby Indirani | Penerbit: Bentang Pustaka | Tahun Terbit: Oktober 2020 | Tebal: xiv+210 hlm.




Begitu tahun berganti, berjuta orang berkata: “Alangkah cepat waktu berjalan. Kita yang dulu kanak-kanak, kini telah menua. Kita yang dulu imut, kini menjadi amit-amit. Kita yang dulu menggemaskan, kini mulai mencemaskan."


***

Tahun-tahun melaju dan terus berjalan, kehidupan memang berlalu begitu cepat. Namun, kehidupan bukan persoalan waktu dan jarak, bukan pula persoalan seberapa lama dan seberapa jauh kita menapaki hidup. Kehidupan adalah persoalan kemana dan bagaimana melangkah. Sialnya, alih-alih mengetahui ke mana dan bagaimana melangkah, acap kita juga tak paham tujuan.


Kita memiliki kesadaran yang sama, bahwa jalan menuju puncak kejayaan, kesuksesan atau puncak apa pun adalah jalan yang menanjak, jalan yang sarat perjuangan, disesaki rasa lelah. Tak ada pendakian yang mudah, selalu menguras tenaga, butuh kepiawaian mengatur nafas dan mengelola emosi.


Meski sadar dan tahu, menjalani kehidupan menuju puncak membutuhkan perjuangan, anehnya kita selalu setia berteman dengan keluhan: lelah, susah. Tak jarang kita memutuskan untuk menyerah di tengah jalan atau berusaha mencari jalan pintas.


Padahal hidup yang ditempuh menuju puncak, dengan jalan pintas tentu memberi risiko lebih besar. Jalan pintas atau hidup instan, bukan hanya akan membuat kegagalan berproses, tetapi juga sering membuat tersesat: bukan pada cahaya kita menatap dan menetap, pada kegelapanlah kita tenggelam. Menduga itu adalah pendakian ke atas, nyatanya pada juranlah terpuruk.


Jalan yang sunyi dari hambatan, tak melelahkan, tak butuh perjuangan dan pengorbanan selalu layak dicurigai bukan sebagai pendakian.
Isyarat Tuhan dalam kitab suci, bahwa tak ada satu pun orang yang sampai pada level tertinggi kehidupan, sebelum ia melalui ramainya cobaan: rasa takut, rasa lapar hingga hidup dalam kekurangan dan kehilangan.


Lantas, kenapa kita abai dan selalu menampilkan sikap paradoks: mencitakan konsepsi ideal kehidupan, tapi praktik hidup leha-leha; menginginkan kehidupan hebat, tapi lelakon dan tutur recehan; memimpikan hidup menyenangkan, tetapi menggemari kebenciaan; menyukai kelapangan, tetapi doyan menumpuk materi.


***


Memang, kita tak akan pernah tergerak menuju samudera saat kita tak pernah menyadari kita hanyalah setetes air di tengah sahara. Kita tak akan pernah ingat serumpun, hingga kita merasa hanyalah seruling kecil yang terasing di tengah kesendirian. Bagaimana kita ingin bergerak menuju ke kesempurnaan, bila kita tak pernah mengetahui keterbatasan. Bagaimana kita hendak bertolak pada keabadian, jika kita tak pernah menyadari kefanaan diri.


Di tahun 2021 ini, kita butuh ruang sunyi, ruang meditasi untuk menyelami nilai-nilai kemanusiaan kita, menengok kembali kedalaman sadar kita, kewarasan dan normalnya kita sebagai manusia berhati dan berakal.


Kita butuh ruang tapa brata. Ruang yang dalam KBBI diartikan bertarak, menahan hawa nafsu atau berpantang. Dalam etika Jawa, tapa brata adalah ruang yang dilakoni untuk tujuan meraih kesempurnaan jiwa. Dalam perspektif Max Weber, tapa brata serupa dengan asketisisme. Ia menegaskan bahwa hasrat untuk mendapat materi yang didasarkan pada pengenduran nilai-nilai moralitas, adalah keliru dan sesat.


Menurut Weber, the wordly asceticism atau tapa brata duniawi, difokuskan melalui konsep calling (sinyal/panggilan) yang lahir dari semangat reformasi gereja. Calling merujuk pada ide awal bahwa bentuk tertinggi dari kewajiban moral individu adalah memenuhi tugas-tugasnya dalam urusan duniawi, Weber menilai kekayaan menjadi amoral jika hanya dilakukan untuk menopang kehidupan mewah dan bermalas-malas.


Dalam lakon pewayangan, kita mengenal Abimanyu yang disosokkan sebagai kesatria sejati berusia muda. Ketokohan Abimanyu terbentuk oleh dialektika hidup yang sama sekali tak sederhana, Ia lahir dan besar dalam suasana serba kekurangan, hidup dalam nestapa kemiskinan dan penderitaan.


Abimanyu adalah putra Arjuna. Ia tumbuh dalam asuhan pamannya, karena ketika itu para Pandawa termasuk ayahnya Arjuna harus menjalani pengasingan selama 12 tahun dan masa penyamaran selama setahun. Namun, penderitaan tersebab kemiskinan, justru membuat Abimanyu terkukuhkan sebagai seorang pribadi yang jernih menyimak kehidupan.


Kemiskinan yang telah mencetuskan tapabrata atau asketisisme, 

mengantarkan Abimanyu pada kebeningan jiwa menatap segenap pernak-pernik dunia dengan hati nurani. Sisi terang dan sisi gelap dunia lalu terdeteksi secara apa adanya, tak mengambil lebih dari apa yang menjadi haknya.


Abimanyu lahir sebagai tokoh teladan dalam lakon cerita pewayangan, yang penting dikhusyuki sebagai teladan. Nestapa kemiskinan tak membuat Abimanyu cengeng, alai dan lebai. Justru, kemiskinan mengantarkan Abimanyu pada praksis tapa brata, menghayati kemiskinan sebagai cara membentuk pribadi berkarakter, begitu pun kala berada di tengah kemapanan, tak membuatnya lupa daratan dan abai terhadap perjuangan.


Abimanyu merupakan sosok dengan kebeningan nurani yang tiada tara. Jiwanya mampu mencerna kemungkinan timbulnya prahara besar, pertumpahan darah akibat perseteruan tak kunjung usai antara Pandawa dan Kurawa. Perang besar Pandawa versus Kurawa telah sedemikian rupa hadir sebagai narasi tentang kecamuk ambisi dan angkara murka. Dan, sebagaimana terdeteksi melalui kebeningan hati nurani Abimanyu, perang besar itu merupakan simbolisme dari kebengisan manusia menghancurkan sesamanya.


Abimanyu hadir sekaligus menjadi korban dari perang kekuasaan tersebut.  Melawan angkara murka yang terus menerus ditebarkan Kurawa. Meski sebelumnya ia berjanji untuk tak ikut berperang, karena ia paham jika melanggar janji tersebut ia pasti terbunuh, tetapi Abimanyu tak pernah lari dari gema yang berkumandang dari kedalaman hati nuraninya, ia ikut berperang dan akhirnya terbunuh dengan gada Dursasana.


Abimanyu berjuang mengorbankan dirinya, meninggalkan istrinya yang sedang mengandung.


Begitulah, cerita Mahabharata, dalam narasi perebutan kekuasaan dan politik selalu hadir, meski lebih sering tampil dalam wajah tunggal Kurawa, jarang dan langka kita mendapati tokoh-tokoh politisi yang duduk di lembaga parlemen dan lembaga eksekutif hadir memerankan wajah Pandawa, apalagi serupa wajah Abimanyu, meski cukup banyak tokoh-tokoh tersebut yang di kala bocah sesungguhnya bergumul dengan nestapa kemiskinan dan hidup serba kekurangan.


Wajah-wajah penguasa sekali lagi, lebih sering hadir menegaskan diri sebagai sosok Sengkuni, Duryadana, dan Dursasana, wajah-wajah serakah, yang acapkali lelakunya penuh tipu muslihat dan kemunafikan.


Kemiskinan di masa kecil malah mengkristalisasi ratapan jiwa dan umpatan kesadaran, bukan fase edukatif mengasah nurani. Tatkala bocah miskin itu lantas dewasa dan berhasil menorehkan namanya sebagai anggota parlemen atau penguasa, maka secara reflek-psikologis terkobarkan dendam pada kemiskinan masa lampau, menjadi kemaruk, rakus dan dzalim, dengan membiarkan dirinya terseret sengkarut kejahatan korupsi.


Mereka yang dulunya adalah aktivis yang sering berkoar-koar tentang ketakadilan, kekuasaan yang dzalim, tidak serta merta mendedahkan pengalaman tersebut sebagai atmosfer edukasi tapa brata, melainkan menjadi bekal dan latar pengalaman untuk lebih lihai mengelabui rakyat, bersandiwara dan berkamuflase sebagai pejuang rakyat, padahal sejatinya adalah pribadi dengan mental budak, menghamba pada kuasa imperialistik.


Maka, tak perlu heran jika sewaktu-waktu tokoh-tokoh yang sering menyebut dirinya wakil rakyat lebih mirip dengan tokoh-tokoh Kurawa atau tokoh yang penuh dengan trik tipudaya seperti Sengkuni. Mereka menjadi anggota parlemen, tetapi di saat yang sama juga menjadi pengusaha dan pemburu setoran, mulai menjadi makelar proyek, makelar jabatan atau bahkan sering pula menjadi calo dalam penerimaan PNS, sering tampil sebagai sosok yang humanis dan merakyat, tetapi sesungguhnya berhati serigala.


Jiwa yang tak pernah memaknai kehidupan sebagai tapa brata, memang tidak akan pernah puas dan cukup dengan kehidupan, sampai kapan pun! 


Semoga kita tidak terlalu sibuk mendandani raga dan mengabaikan akal dan hati, padahal kita tahu sebesar apa pun usaha, raga kita tetap akan menua, rapuh, membusuk sebelum akhirnya terurai menjadi debu. (*)



Bangkitnya Semangat UKM di Indonesia


Senin (1/12/2020), sekira pukul 10.00 pagi, Edi (36 tahun) menemui saya di rumah. Sebelumnya, Edi sudah berjanji, sebelum berangkat ke tempat kerja di daerah Tejoagung, Kota Metro akan mampir ke kediaman saya, mengambil laptop saya yang telah beberapa hari mogok, tak mau hidup.

Saya dan Edi telah lama berteman. Hanya karena perbedaan jam kerja dan waktu senggang membuat kami jarang bertemu. Edi full beraktivitas di siang hari, sedangkan saya lebih banyak bekerja di malam hari.

Kesempatan bertemu pagi itu, menjadi kesempatan berharga bagi saya untuk bertanya perkembangan usahanya. Edi dulunya adalah karyawan di salah satu toko penjualan dan service komputer terbesar di Kota Metro, sebelum akhirnya memutuskan keluar dan membuka usaha sendiri, .

Menurutnya, keinginan untuk berkembang dan mengajak kawan-kawannya terlibat menjadi alasan terkuat ia membuka usaha sendiri.

"Saya memiliki keahlian di bidang servis elektronik dan saat membaca pasar, saya melihat ada peluang untuk mendapatkan lebih besar keuntungan. Saya bisa mengajak kawan-kawan yang belum memiliki pekerjaan tetap untuk berkembang bersama," tuturnya.

Kini, Edi setidaknya telah memiliki tiga karyawan tetap, selain siswa-siswa SMK yang secara bergantian rutin praktik kerja lapangan (PKL) di tempat usahanya. Edi mengakui bahwa hasil yang diperolehnya dari usaha tersebut bisa membayar karyawan dengan upah yang layak, termasuk memberi sangu siswa PKL di akhir tugas praktik mereka.

Lain cerita Edi lain pula cerita temannya Andri (38 tahun), yang memilih membuka bengkel 'Berkah Motor'. Andri sebelumnya adalah karyawan di perusahaan pembiayaan. Andri memutuskan keluar karena tidak mampu bekerja dengan target setiap bulannya. Meski belum memiliki karyawan tetap, karena belum genap setahun ia merintis usaha bengkelnya, Andri mengaku sering melibatkan teman-temannya bila ada pekerjaan yang tidak bisa ditangani sendiri.

Pandemi Covid-19 sangat dirasakan dampaknya oleh banyak orang, pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kebijakan merumahkan karyawan menjadi pilihan sulit yang ditempuh banyak perusahaan. Pilihannya adalah kembali pada sektor riil, UKM, sektor yang berhubungan langsung dengan kegiatan ekonomi masyarakat.

Orang akan memutuskan untuk kembali berwirarausaha, merintis usaha mandiri, usaha yang tidak melahirkan rasa was-was untuk di-PHK atau dirumahkan. Dan, sepertinya pilihan itu akan menjadi kecenderungan dan kegandrungan banyak orang, di era virus yang entah kapan berujung-akhir, terlebih era digital yang memberikan peluang besar bagi terciptanya usaha-usaha kecil, yang bisa digerakkan dari mana saja, dengan hanya mengandalkan gerakan-gerakan jari pada papan ketik komputer atau gawai.

Badan Pusat Statistik (BPS), berdasarkan hasil Sensus Ekonomi (SE2016) mencatat jumlah Usaha Mikro Kecil (UMK) di Indonesia sebanyak 26,26 juta usaha atau memiliki kontribusi 98,33 persen. Sedangkan data yang dilansir Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia tentang Perkembangan Data Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Usaha Besar (UB) Tahun 2016-2017, pada tahun 2017 UMKM berjumlah sebesar 62.922.617 unit usaha dari 62.928.077 unit usaha yang ada di Indonesia, atau memiliki persentase sebesar 99,9 persen, sedangkan UB (Usaha Besar) hanya berjumlah sebesar 5.460 unit usaha atau memiliki persentase 1%.

Jumlah UMKM yang begitu memukau tersebut, menjadikan sektor riil ini sebagai bantalan ekonomi nasional. Di era tahun 1998 sektor korporasi sempat kolaps akibat resesi ekonomi yang menimpa Indonesia, meski tak sama, pengalaman UMKM yang terbukti mampu menyelamatkan perekonomian Indonesia harus menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah perlu memberikan stimulus, dan mendorong digitalisasi UKM, termasuk membangun database. Selama ini baru ada 13% pelaku UMKM yang terkoneksi secara digital dari seluruh pelaku UMKM di Indonesia.

UKM di Era Digital



Yenita (32 tahun) menyadari pandemi covid-19 telah mengakibatkan usaha suaminya, Rinaldi (34 tahun) yang berjualan bibit tanaman sembari membuka lapak es kelapa muda sepi pembeli, usahanya membantu perekonomian keluarga dengan membuka les privat bahasa Inggris juga sudah tidak berjalan, daya beli masyarakat benar-benar anjlok.

Siang dan malam, ibu dari Najma (3 tahun) itu memantau lowongan kerja di media sosial, tak jarang pula ia mengetikkan kata kunci jenis pekerjaan yang diinginkannya di mesin pencari. Pekerjaan yang dilakoninya sejak lulus kuliah, bedanya sekarang ia terlihat lebih sering mengunjungi mesin pencari itu. Tak pernah lelah, tak pernah menyerah. Hingga akhirnya, ia secara tak sengaja mengklik marketplace, sebuah fitur layanan jual beli di sebuah platform media sosial.

Iseng, Yenita mencoba membeli sebuah produk mainan untuk anaknya, sukses. Barang diantar ke rumahnya oleh si penjual. Yenita mulai berpikir, untuk mencoba berjualan lewat media sosial. Seluruh akun media sosialnya kembali diaktifkan, beberapa toko grosir tempat ia bisa belanja dan beberapa toko grosir baru pun didatanginya, dipilihnya barang-barang yang menurutnya laku di pasaran. Sebagian dibeli, sebagian lagi hanya difotonya setelah mendapatkan izin pemilik toko.

Mulailah Yenita menekuni bisnis barunya, jualan online.

“Jalan rezeki itu selalu ada, selama kita mau berusaha,” jelas Yenita saat saya menemuinya di Toko Najma miliknya di daerah Margodadi, Metro Selatan, Rabu (16/12/2020).

Menurut pengakuan Yenita, sebelum menyewa toko, semula ia dan suaminya memanfaatkan garasi rumah kontrakan mereka untuk menyimpan barang dagagannya. Garasi itu disulapnya selayaknya toko dengan etalase kecil di depannya, ia berjualan pulsa dan kuota, serta layanan jasa pembayaran rekening listrik.

Kini usahanya telah berkembang, selain berjualan pulsa, mereka juga membuka pertamini dan jasa transfer uang.

“Hal itu menuntut tempat lebih layak dan strategis, meski tidak di jalan utama, tapi paling tidak di jalan kedua yang ramai dilalui orang,” Rinaldi mengemukakan alasannya pindah dari garasi dan menyewa toko.

Meski telah memiliki toko offline, Yenita tetap mempertahankan usahanya berjualan secara online. Ia memanfaatkan fitur layanan marketplace di media sosial, menurutnya ada banyak kemudahan yang didapat dari berjualan online tanpa harus takut rugi. Biasanya ia menawarkan preorder untuk setiap barang yang pengirimannya membutuhkan waktu 2-5 hari. Ia juga memanfaatkan testimoni beberapa kawan yang telah berbelanja untuk membangun kepercayaan pembeli.

Teknologi bagi Yenita adalah jalan pembuka rezekinya. Ia yang awalnya terkendala uang untuk menyewa tempat di lokasi strategis, membayar listrik dan membeli perabot (rak, lemari, etalase), dengan bantuan media sosial mendapatkan kemudahan menjalankan bisnisnya, bahkan pengakuannya, tak jarang ia tak memiliki modal, tapi tetap bisa menjalankan bisnis.

“Modal posting di media sosial saja, begitu konsumen kirim uangnya, baru dibelanjakan! Jujur dan tepat waktu justru menjadi modal utama membangun bisnis ini daripada uang,” tuturnya.

Saat saya menawarkan membangun website profesional untuk toko online sembari memperlihakan cara Mencoba Produk trial Web1Menit di Masterweb, ia terlihat antusias dan memperhatikan dengan seksama. Tapi, setelah selesai ia menunjukkan keraguan.

“Apa saya bisa, dan apakah bisa menjangkau konsumen saya yang rata-rata di pedesaan?” tanyanya ragu.

Peran Pemerintah


Kendala Yenita, Edi dan Andri untuk digitalisasi usaha sebenarnya adalah soal keyakinan perkembangan usaha atau pertumbuhan usaha (value added). Mereka belum meyakini bahwa digitalisasi usaha menjadi sesuatu yang krusial untuk dilakukan melalui pemanfaatan kemajuan teknologi yang berkembang sedemikian pesat. Bahwa peningkatan pemanfaatan kekuatan ekonomi digital dapat membantu UKM lokal membuka pasar dan melebarkan permintaan yang potensial.

Yenita mungkin saja ragu, jika barang yang dijualnya adalah produk-produk yang dibeli di Jawa akan kalah bersaing di pasar, sehingga ia hanya terpaku menyasar konsumen di pedesaan. Menjadi berbeda, jika barang yang ditawarkannya adalah produk-produk lokal yang dihasilkan dari home industri atau kerajinan-kerajinan rumah tangga yang unik, memiliki kekhasan daerah dan bisa menarik pembeli (konsumen) dari luar daerah (Lampung), misalnya Tapis Lampung, Batik Lampung, atau produk oleh-oleh khas Lampung.

Begitu pun, Edi dan Andri, mereka bisa menjangkau konsumen lebih luas dengan digitalisasi, menjual layanan dan keahlian melalui portopolio yang ditawarkan lewat media digital. Edi memiliki keahlian merakit komputer dengan biaya yang murah, Andri bisa membuat mobilan-mobilan remote control (RC) dengan kualitas terbaik, bahkan di atas rata-rata kualitas mobil RC yang dijual di toko-toko modern.

Stimulus dari pemerintah menjadi keniscayaan. Pemerintah penting untuk mendorong kreativitas, digitalisasi dan sinergi dengan semua pihak, baik pemerintah di tingkat pusat hingga daerah maupun dengan pihak swasta.

Kebijakan pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM yang menargetkan sebanyak 50% dari total jumlah UMKM masuk ke sektor ekonomi digital pada 2024 sebagaimana dituangkan dalam Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, harus terus didorong dan diupayakan melalui kebijakan turunan dari setiap pemerintah daerah. 

Kalau pemerintah secara terstruktur terus melakukan pembinaan dari sisi produksi, kewirausahaan, pemasaran, keuangan, dan juga membentuk klaster atau kelompok usaha, yang kemudian diikuti dengan digitalisasi, baik  digitalisasi sistem pembayaran maupun promosi (pemasaran) secara digital, serta sinergi semua pihak, maka bukan mustahil target 50% UMKM yang go-online di tahun 2024 segera terwujud.

Keterlibatan dan sinergi semua pihak sangat penting. Google Indonesia selama lebih kurang tiga tahun belakangan, telah berhasil melatih sekurangnya satu juta pelaku UMKM dalam memperluas jaringan usahanya melalui pemasaran produk-produknya secara online. Termasuk juga penting menggandeng penyedia domain-hosting dan layanan jasa pembuatan web yang mudah dan murah, seperti Masterweb.

Keunggulan Layanan Masterweb



Sebenarnya keraguan Yenita bukan karena ketidakmampuannya menjalankan digitalisasi usaha, karena semuanya sangat mungkin dan mudah dipelajari oleh lulusan sarjana bahasa Inggris tersebut. Keraguannya lebih pada pertumbuhan usahanya (added value), apakah usahanya bisa lebih berkembang dari yang telah dijalankan selama ini? Dan hal inilah yang perlu mendapatkan pendampingan, pembinaan dan pelatihan dari semua pihak yang peduli terhadap kebangkitan UKM, utamanya pemerintah.

Sedangkan soal membangun platform usaha digital telah banyak tutorial yang bertebaran diinternet, bahkan ada banyak penyedia jasa layanan yang memberikan kemudahan. Salah satunya adalah Masterweb.

Mengapa Masterweb?

Bagi saya, pengalaman, pelayanan dan respon cepat terhadap pelanggan menjadi jawaban utama dan pertama. Di samping tentu saja ada deretan jawaban dan alasan lain yang pantas diajukan, seperti layanan paket dengan harga murah dan layanan kemudahan.

Pengalaman Masterweb selama dua dekade sebagai perusahaan webhosting di Indonesia yang memberikan layanan beli domain dan hosting menawarkan domain murah (bahkan gratis) dan hosting murah, menjadikan Masterweb sebagai penyedia domain dan web hosting No. 1 di Indonesia.

Pelayanan yang diberikan Masterweb juga tidak hanya sebatas layanan domain dan hosting murah, melainkan Masterweb sebagai Website Builder Terbaik juga memberikan layanan pembuatan website (website builder) yang siap digunakan dengan harga yang sangat terjangkau dengan fitur komplit yang memudahkan setiap orang terjun ke dunia e-Commerce

Bahkan, Masterweb sebagai Hosting UMKM juga membantu pelanggan yang sudah memiliki website mengembangkan webnya agar lebih banyak dan ramai pengunjung, sehingga bisa meningkatkan transaksi jual beli. Hal ini menjadikan Masterweb dipilih secara resmi oleh Google Indonesia menjadi Mitra Premium UKM.

Pelayanan Masterweb didukung oleh 70 Customer Service yang mengedepankan keramahan kepuasan pelanggan, untuk membatu merespon, menjawab dan menanggai pertanyaan pelanggan, khususnya untuk layanan dukungan teknis diberikan 24 jam non-stop selama 1 minggu 7 hari, melalui telpon, email, tiket maupun chat online.

Jadi, sinergi UKM, Pemerintah dan Masterweb sebagai Mitra Premium UKM akan sangat membantu UKM go-online, melampui batas wilayah dan waktu. Optimisme bangkitnya semangat UKM di Indonesia menjadi sesuatu yang nyata. (*)